Bagi Ali Fikri, membaca koran bukan sekadar hobi, namun juga passion.Tak hanya dirinya, tetapi juga keluarga besarnya.
Setiap hari obrolan keluarga lebih terlihat seperti forum diskusi, karena yang dibahas adalah berita. Sengit karena saling adu argumen, namun tetap hangat sebagai keluarga yang bahagia.
JOMBANG - Ali Fikri pernah menjabat sebagai Bupati Jombang meski dengan masa jabatan yang singkat. Sebelumnya ia menjabat Wakil Bupati mendampingi Bupati Suyanto periode 2003-2008.
Ali Fikri adalah anak ke-8 dari 10 bersaudara dari pasangan Khafidon dan Maryam. Lahir di Desa/Kecamatan Sumobito 28 April 1961 silam dan merupakan keturunan KH Imam Zahid, ulama tersohor yang seperguruan dengan KH Hasyim Asy’ari.
Kepada Jawa Pos Radar Jombang, Ali Fikri mengaku keluarganya sudah berlangganan koran Jawa Pos bahkan sejak ia belum lahir. ”Dulu waktu masih bayi ya belum bisa baca koran,” kata Ali sambil tertawa.
Ia mengatakan, membaca berita media massa adalah passion keluarganya. ”Selain koran, ada juga majalah. Paling banyak tentang politik, sosial, dan keagamaan,” lanjutnya.
Namun yang paling lama, adalah berlangganan koran Jawa Pos. ”Dari lopernya masih naik sepeda pancal, sampai ganti sepeda motor. Mungkin sekarang lopernya sudah ganti generasi, karena kalau dihitung langganan Jawa Pos sudah puluhan tahun,” imbuhnya.
Sementara ia sendiri baru mulai memiliki kebiasaan membaca koran ketika sudah remaja. Itu terjadi sekira 1973, saat Ali melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Jombang. Kemudian berlanjut saat ia tamat SMP pada 1976, dan mondok di Pondok Pesantren Modern Gontor selama lima tahun dan lulus pada 1981.
Lulus dari Gontor, Ali melanjutkan kuliah di IAIN Jakarta melalui jurusan Aqidah dan Filsafat dan lulus 1987. ”Baca berita bagi keluarga saya adalah rutinitas, apalagi diskusinya. Setiap orang punya idealisme masing-masing, dan antar anggota keluarga cara pandangnya jauh sekali,” tambahnya.
Ada yang ‘kanan’ sekali, tengah-tengah, hingga yang agak sedikit miring ke ‘kiri’. ”Kalau riwayat keluarga ditarik ke atas dan samping, soal idealisme malah lebih gila lagi,” ujar Ali.
Maklum saja, keluarga besar Ali Fikri adalah kalangan pemikir sekaligus cendekiawan. Hobi membacanya pun berlanjut ketika ia masuk ke dunia birokrasi. Dimulai ketika ia bekerja sebagai PNS lingkup Departemen Agama selama 10 tahun.
Hingga saat Ali mengalami bosan sebagai PNS, dan banting setir terjun ke dunia politik. ”Saya mundur sebagai PNS lalu masuk partai, karena menjadi PNS tidak bisa bebas,” imbuhnya.
Selama menjadi politisi melalui Partai Amanat Nasional (PAN) ini, Ali tak sekadar menjadi pembaca berita. Namun juga kerap menjadi narasumber terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan untuk rakyat.
Pada periode 1999-2004, Ali duduk sebagai anggota DPRD Jombang. Di gedung dewan, PAN bergabung dengan PPP, PBB, PKPI dan PNU dalam Fraksi Madani.
Di sini, Ali menemukan independensi sebagai fungsi penting yang harus dimiliki setiap media massa. ”Awal-awal reformasi, ramai wacana hak pemakzulan DPRD terhadap jabatan bupati. Alhamdulillah Jawa Pos memposisikan diri di tengah, netral. Tidak berpihak ke legislatif, juga tidak ke eksekutif,” pungkas Ali. (bersambung)
Editor : M Nasikhuddin