JOMBANG - Pemotongan bantuan sosial warga terdampak Covid-19 juga dikeluhkan warga Desa Talun Kidul, Kecamatan Sumobito. Tak tanggung-tanggung potonganya mencapai Rp 400 ribu per penerima.
Riyanti, 38, salah satu penerima BLT Dana Desa (DD) dari Dusun Sedamar, Desa Talun Kidul mengatakan, dari uang bansos sebanyak Rp 600 ribu yang dia terima hanya Rp 200 ribu. Sisanya Rp 400 ribu dipotong oleh salah satu perangkat desa. ”Jadi harusnya saya dapat Rp 600 ribu, tapi tidak utuh karena dipotong tadi,” ujar diakemarin.
Kepada wartawan koran ini, Riyanti mengaku pemotongan dilakukan untuk selanjutnya diberikan kepada anak yatim dan warga kurang mampu lainnya yang tidak dapat bansos. ”Itu dilakukan saat tahap pertama, sedangkan tahap kedua kemarin sudah diberikan utuh Rp 600 ribu,” tambahnya.
Kendati demikian, ibu dua anak ini tetap berharap uang itu dikembalikan. Apalagi, selama pandemi ini penghasilannya setiap hari tidak menentu. ”Suami saya bekerja sebagai buruh goreng kerupuk, saya sendiri jualan bunga saat Jumat Legi, harapannya diberikan utuh untuk beli beras,” pungkas dia.
Diwawancara terpisah, Bambang Sugianto Kades Talun Kidul membantah jika ada pemotongan sepihak yang dilakukan perangkat desanya. Dia sejak awal sudah mewanti wanti kepada seluruh perangkat desanya termasuk kasun agar tidak melakukan pemotongan untuk kepentingan apapun. ”Karena pamong saya juga tak wanti wanti agar kinerja dalam menyalurkan bansos jangan sampai melakukan pemotongan apapun ke masyarakat,” terangnya.
Disinggung mengenai keluhan salah satu warganya, Bambang menyebut ada kesalahpahaman di masyarakat. ”Saya sendiri belum klarifikasi, namun nanti akan saya luruskan ke pamong saya dan jika benar ada demikian akan saya minta dikembalikan,” papar dia.
Soal dugaan pemotongan bansos tersebut, Bambang mengaku belum tahu pokok permasalahannya. Sebab, dari sekitar 112 warga yang menerima BLT DD semuanya direalisasikan 100 persen tanpa ada potongan apapun. ”Nanti akan saya luruskan langsung ke warga saya,” pungkasnya.
Editor : Binti Rohmatin