Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Melihat Proses Pembuatan Kue Tradisional Rengginang Khas Desa Ngumpul

Binti Rohmatin • Senin, 11 Mei 2020 | 14:22 WIB
Melihat Proses Pembuatan Kue Tradisional Rengginang Khas Desa Ngumpul
Melihat Proses Pembuatan Kue Tradisional Rengginang Khas Desa Ngumpul


JOMBANG - Salah satu kue tradisional yang tak kehilangan penggemarnya adalah rengginang. Kini, rasa rengginang tidak hanya manis dan asin seperti pada umumnya, tapi juga ada rengginang pedas yang menjadi kesukaan anak-anak muda.


“Kalau manis atau asin saja sudah biasa, kini ditambah  pedas untuk yang muda-muda,” ungkap Ning Somah, salah satu pembuat rengginang pedas dari Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.


Setiap hari, Somah disibukkan dengan kiloan beras ketan yang sudah siap diolah menjadi rengginang. Meski kini yang lagi hits di kalangan anak-anak muda adalah rengginang pedas yang dinamai rengginang pedas geprek, namun ia tetap membuat rengginang manis, bawang, terasi dan original.


Memproduksi rengginang sudah dimulai sejak tiga tahun lalu. Menurutnya, masih banyak orang yang menyukai jajanan tradisional ini, meski marak kue produksi pabrik yang modern.


“Rengginang yang saya bikin,  Alhamdulillah, di pasaran juga diterima di masyarakat, banyak yang masih menyukai rengginang,” tambahnya.


Dia berkisah, awal membuat rengginang, sempat kesulitan menentukan rasa yang pas,  bahkan pernah gagal dan harus mengulang beberapa kali. Dalam proses memasaknyapun beberapa kali gagal.  Rengginang yang gagal tidak bisa diulang kembali, mencetaknya pun perlu ketelatenan.


Namun saat ini, tangannya sudah lihai membuat rengginang. Hanya saja cuaca juga sedikit membuatnya resah. Pasalnya rengginang hanya bisa dikeringkan dengan cahaya matahari. Tidak bisa jika dikeringkan dengan oven. “Kalau cuaca redup gitu ya kadang sedih, karena rengginang bergantung pada cuaca, kalau dioven tidak bisa mekar sempurna,” jelasnya.


Yang membedakan rengginang milik Ning Somah dengan rengginang yang lain adalah semuanya menggunakan campuran udang kering. Kecuali rasa manis. “Semuanya pedas, bawang semuanya pakai campuran udang, juga campuran terasi, jadi rasanya lebih gurih dan enak,” jelasnya.


Rengginang yang ia buat berbahan baku beras ketan. Beras ketan yang sudah cuci dicampur dengan semua bumbu dan ditambah tepung tapioka. Jika pedas maka akan dicampur dengan cabai yang sudah dihaluskan. Kemudian dikukus, lalu dijemur setelah matang hingga kering.  


Untuk pemasaran,  saat ini  mengandalkan media online. Namun karena sudah beberapa tahun berproduksi, pembeli banyak yang langsung datang. Untuk pengemasan dan pemasaran, Ning mengandalkan tenaga santri dan warga sekitar.


Ya, dia salah satu pengasuh panti asuhan di wilayah Ngumpul. Hasil penjualan rengginang yang ia buat juga dipakai untuk menghidupi anak yatim piatu melalui santunan. “Alhamdulillah sedikit banyak rengginang ini juga bermanfaat, untuk santri dan juga untuk warga sekitar, bisa jadi pemasukan,” tambah dia.


Untuk harga, rengginang dipatok dengan harga yang cukup murah, yaitu mulai   Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu saja per kemasan. Satu kemasan isi setengah kilogram.


Ditengah wabah Covid-19, penjualan rengginangnya tak mengalami penurunan, sebaliknya justru meningkat. Bahkan pengiriman hingga ke luar kota seperti Jember, Gresik, Mojokerto, dan Malang. “Kalau jauh kita kirim via paket, kalau dekat saya banyak reseller yang kadang-kadang sistemnya antar atau COD, jadi pelanggan tetap bisa di rumah saja,” pungkasnya.

Editor : Binti Rohmatin