Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Madu Pak Samsi Wonosalam, Melegenda Sejak 1980

Binti Rohmatin • Selasa, 21 April 2020 | 01:57 WIB
Madu Pak Samsi Wonosalam, Melegenda Sejak 1980
Madu Pak Samsi Wonosalam, Melegenda Sejak 1980

JOMBANG - Wonosalam menjadi salah satu daerah penghasil madu hutan. Salah satunya yang hingga kini masih bertahan adalah Madu Samsi. Nama Madu Samsi sudah dikenal dimana-mana.


Madu Samsi bertahan hingga puluhan tahun karena dikenal dengan produknya yang asli tanpa bahan campuran. Madu Samsi terletak di Dusun/Desa Sambirejo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang. 


Nama Samsi diambil dari nama pemilik peternak lebah yakni Samsiran. Pria asli Magetan ini sudah mulai membudidayakan lebah madu di desanya sejak 1980-an. ”Ayah saya sudah memulai peternakan madu sejak tahun 1980-an,” ujar M Lutfi, 35, anak sulung Samsiran kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin.


Untuk membudidayakan madu, Samsi membuat kotak ukuran 50 x 50 cm. Di dalam kotak tersebut ada satu ratu dan ribuan koloni lebah. Lebah tersebut diletakkan di area hutan, kebun atau daerah pepohonan yang banyak bunganya. Misalnya di Wonosalam, Megaluh, Bandarkedungmulyo. 


Madu Samsi  terus  sudah meluas dan memiliki cabang peternakan di Kabupaten Jombang. ”Ada beberapa cabang yang kolaborasi dengan petani lokal misalnya di Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandarkedungmulyo,” tambahnya. 


Lebah yang dibudidayakan Samsi adalah lebah unggulan jenis Avis Mellifera. Lebah tersebut dinilai memiliki kantong yang lebih besar dari lebah biasa. ”Sehingga bisa membawa nektar (sari bunga) lebih banyak. Dan lebah jenis ini produktivitasnya lebih tinggi dalam menghasilkan madu,” papar dia.


Lebah jenis tersebut, paling banyak menghasilkan madu saat musim panas alias kemarau. Namun saat musim hujan seperti ini, produksi madu cenderung menerun. ”Bila cuaca panas, kita bisa panen seminggu sekali. Tapi kalau hujan terus bisa 2-3 minggu sekali,” jelas dia. 


Misalnya di penangkaran madu yang terletak di Desa Karangdagangan kemarin, terdapat 125 kotak lebah. Saat musim kemarau bisa menghasilkan hingga 200 kilogram. ”Tapi kalau musim hujan seperti ini cenderung sedikit,” papar dia.





Madu Asli, Ya di Peternak Langsung  



MADU Samsi dalam pengolahannya masih menggunakan cara tradisional. Misalnya untuk mendapatkan madu dari sarangnya, mereka hanya perlu mengambil kotak balok yang berisi sarang madu untuk diperas dengan sebuah penggilingan yang dibikin sendiri. 


”Ini cuma kita putar untuk memeras madunya,” ujar M Lutfi. Musim hujan seperti ini, madu yang dihasilkan cenderung dari sari bunga sayur-sayuran yang berada di sawah petani. Misalnya sayur terong, timun dan kangkung. ”Beda dengan musim kemarau saat musim bunga randu, kualitas madunya paling dicari,” tambahnya. 


Untuk memanen madu, peternak menggunakan asap dari pembakaran kain bago. Asap dipercaya membuat lebah jadi jinak saat rumah mereka dipisah atau diambil. Selain itu, sebagian peternak juga menggunakan penutup mata dari jaring. ”Kalau disengat jarang sekali, kecuali mereka terancam,” papar dia.


Satu botol madu berukuran 350 militer dihargai Rp 50 ribu, untuk botol ukuran 750 ml dihargai Rp 90 ribu. Setiap panen, madu nya langsung diborong agen untuk dijual kembali. ”Yang menjual kebanyakan agen. Mereka mengirim hingga ke beberapa daerah luar Jawa,” papar dia. 


Seiring berkembangnya zaman, cara membedakan madu murni dengan madu campuran sangat sulit. Apalagi sejak datangnya madu pabrik yang ditambah bahan pengawet dan pemanis buatan. ”Saat ini membedakan madu sangat sulit, baik dari rasa, warna maupun bahannya,” jelas dia. 


Namun agar pembeli tak tertipu saat membeli madu. Satu-satunya cara adalah membeli dari peternak langsung. ”Cara membedakan madu asli cuma dari peternak dan uji lab. Jadi kalau mau dapat madu asli ya dari peternak,” pungkasnya. 

Editor : Binti Rohmatin