Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Mahal karena Populasi Turun, Belalang Goreng Khas Jombang Tetap Diburu

Binti Rohmatin • Jumat, 17 April 2020 | 00:52 WIB
Mahal karena Populasi Turun, Belalang Goreng Khas Jombang Tetap Diburu
Mahal karena Populasi Turun, Belalang Goreng Khas Jombang Tetap Diburu


JOMBANG - Wilayah utara Brantas tepatnya di Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, memiliki kuliner khas yaitu belalang goreng. Meski hewan ini tak lazim dimakan bagi sebagian orang, namun rasanya cukup gurih ketika digoreng.


Warung milik pasangan Yaman dan Anik di Dusun/Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, salah satu yang menjual menu belalang goreng. Berjualan belalang goreng menjadi bisnis yang cukup memberi keuntungan bagi pasangan suami istri ini.


Bisnis itu dimulai 2016 hingga berlanjut 2017 saat pasokan belalang hidup cukup banyak. Namun masuk 2018 hingga 2019, belalang mulai sulit dicari. Mereka kemudian absen berjualan selama dua tahun. Baru tahun ini kembali berjualan belalang goreng.


Dalam sehari, sedikitnya mereka menghabiskan 10-15 kilo belalang hidup.Rata-rata omzet penjualan belalang gorengnya antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. ”Dulu, saya beli belalang hidup harga 50 ribu per kilo. Mereka kalau berburu belalang malam hari, total belalang yang masuk biasanya lima kilo dalam satu malam,” tutur Yaman kemarin (15/4).


Namun untuk saat ini, ia harus membeli belalang hidup dengan harga Rp 85 ribu per kilo. Mahalnya harga belalang hidup ini karena populasinya terus berkurang. ”Sekarang belalang jumlahnya tidak banyak. Setiap musim hujan saja tidak mesti ada, apalagi kalau kemarau,” lanjutnya.


Kalau pun ada, bukan jenis belalang yang hidup di pohon jati. ”Belalang sawah yang warna hijau banyak, tapi jenis belalang itu tidak enak dimakan. Yang enak hanya belalang jati yang ada warna cokelatnya,” imbuhnya.


Belalang hidup dengan jumlah ribuan ekor itu lalu dikumpulkan menjadi satu di dalam jaring agar tidak kembali terbang. Proses pembersihan dilakukan dengan cara dipotong menjadi dua bagian, kepala dan perut.


Selama ini, Yaman dibantu beberapa tetangga untuk membuang sayap dan beberapa organ tubuh belalang. ”Jerohan dan sayap harus diambil,” tambahnya. Setelah itu belalang dicuci bersih, dan digoreng dengan air garam dan bawang. Proses berikutnya mencampurkan belalang kering dengan bumbu sambal goreng agar terasa pedas.


”Bumbunya sama seperti krengsengan, rasanya pedas asin. Gorengan belalang dicampur dengan sambal di dalam wajan dan dimasak lagi supaya bumbunya meresap,” sahut Anik, istrinya. Selain digoreng dengan rasa pedas asin, menurutnya belalang juga dimasak dengan tepung.


Satu kilo belalang hidup, bisa dikemas dalam 12 bungkus plastik ukuran sedang. Per bungkus harganya Rp 10 ribu. Dalam sehari bisa menjual paling sedikit 50 bungkus. ”Keuntungannya lumayan, tapi kalau musim kemarau omzet turun karena jumlah belalang tidak banyak,” lanjutnya.


Belalang goreng buatan Yaman dan Anik ini pernah dikirim ke Jakarta, Jawa Tengah, dan kabupaten/kota di Jawa Timur. ”Salah satu pembeli datang untuk dipaketkan ke Jakarta. Kalau sekarang, dibeli pelanggan di Jombang saja sudah habis. Bagaimana lagi, jumlahnya tidak banyak seperti dulu,” pungkasnya.

Editor : Binti Rohmatin