Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kreatifitas Nur Fauzi Sulap Limbah Triplek Jadi Jam Dinding Unik

Binti Rohmatin • Selasa, 18 Februari 2020 | 19:42 WIB
Kreatifitas Nur Fauzi Sulap Limbah Triplek Jadi Jam Dinding Unik
Kreatifitas Nur Fauzi Sulap Limbah Triplek Jadi Jam Dinding Unik

JOMBANG - Membuat produk unik tidak harus dari barang mahal. Nur Fauzi warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang mengkreasikan barang berkualitas dan bernilai tinggi hanya dari bahan bekas.


Di ruangan berukuran kurang lebih 3 x 4 meter di samping rumah, Nur Fauzi membuat jam dinding unik berbahan dari triplek bekas. Tampak, tumpukan triplek berikut peralatan khusus seperti gergaji triplek, kuas cat dan penggaris berserakan di atas meja.


Nampak Fauzi tengah sibuk membuat jam dinding bermotif burung. Dengan teliti, dirinya menggambar detail pola di atas triplek yang akan disulap menjadi dinding. Setelah pola selesai, Fauzi mengambil gergaji dan memotong secara perlahan, sesuai pola yang digambarnya.


”Memang yang paling sulit ini, waktu penggergajian terutuma bagian lengkungan,” katanya. Ditambahkan, saat menggergaji itu harus konsentrasi. Salah sedikit saja, maka triplek tidak bisa digunakan lagi. Pria berusia 38 tahun ini baru melakukan pewarnaan dengan menggunakan cat kayu setelah proses penggergajian selesai.


”Setelah cat kering maka mulai dipasang angka, jarum serta  mesin jam,” bebernya. Bukan tanpa alasan dia membuat jam dari triplek bekas. Dia lantas menceritakan pengalamannya saat menjadi pekerja bangunan, melihat banyak sekali tumpukan triplek yang dibuang begitu saja. Sampah triplek itu kemudian dibawa pulang ke rumah. Dari situlah muncul ide untuk membuat jam dinding.


”Karena sangat mudah, saya mencoba sekali ternyata langsung jadi,” ungkap dia. Tanpa pikir panjang, Fauzi langsung menekuni usaha pembuatan jam dinding dari triplek. Selain bahannya sendiri, acapkali dia mencari di proyek-proyek yang ada di sekitar rumahnya.


“Kalau memang tidak ada, baru beli yang baru, tapi kebanyakan pakek triplek bekas karena sama saja,” bebernya. Sedangkan untuk mesin jam, dia membeli di toko khusus jam. ”Bahan yang beli ya hanya mesin jam, saya beli Rp 8 ribu sampai Rp 15 ribu tergantung kualitas. Sedangkan yang lainnya semua dari bahan bekas,” beber dia.


Lambat laun, jam dinding triplek kreasinya diminati konsumen. Pesanan pun mulai berdatangan dari tetangga, teman sampai relasi. Pesanan paling banyak justru dari media sosial yang memang dipasang khusus untuk buka lapak. Dalam satu hari, biasanya dia bisa menghasilkan tiga jam dinding siap jual. ”Memang untuk pemasaran hanya lewat media sosial,” terangnya.


Saat ditanya harga jualnya, dia menjual dengan harga Rp 40 ribu – Rp 100 ribu tergantung dengan model kreasi jam dinding yang dibuatnya. ”Saya juga biasanya mengikuti pameran agar banyak orang yang tahu,” pungkas Fauzi. (*)

Editor : Binti Rohmatin