JOMBANG - Di Dusun Jatirowo, Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso, terdapat produksi tempe yang dibungkus dengan daun jati. Hampir seluruh warga membuat tempe yang memilih bentuk khas tipis ini.
Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, proses pembuatan tempe tinggal menunggu proses pengembangan jamur. Ya, warga di Dusun Jatirowo, biasanya di jam-jam seperti itu tinggal menunggu kedelai yang sudah diproses dan diberi ragi berubah menjadi tempe.
Terdapat lembaran bambu selebar 5X3 meter, yang di atasnya ditutup plastik dan goni. Di dalam plastik itu terdapat kedelai yang bakal menjadi tempe. Salah satunya milik Sulianto warga setempat. Sembari menutup kedelai dia menceritakan, proses pembuatan tempe sama dengan pada umumnya.
Kedelai dicuci kemudian dikukus. Setelah matang dan mengembang, kedelai kemudian direndam seharian untuk ditiriskan. “Setelah airnya kering baru diberi ragi, lalu diaduk dan dicetak di lembaran bambu ini,” katanya.
Cetakan tempe kemudian ditutup plastik dan goni. Proses ini dilakukan agar mengembangkan jamur dalam ragi yang sebelumnya diberi dalam tempe. “Prosesnya memakan waktu lama sampai dua malam. Yang jelas dua malam harus jadi, cuma kalau waktu kemarau biasanya lebih cepat,” terang lelaki 52 tahun ini.
Uniknya, ketebalan tempe yang dibuatnya berbeda dengan tempe pada umumnya. Sebab, hanya memiliki tebal 5 centimeter. Sesuai dengan lembaran bambu yang disiapkan sebelumnya. “Biasanya akan dipotong kotak dulu, ukurannya 5X10 centi meter, dua lapis dan nanti dibungkus pakai daun jati,” terang dia.
Karena tipis, tempe ini pun biasanya akan dijual dengan cara ditumpuk terlebih dahulu. Dalam satu hari, Sulianto menyebut bisa memproduksi hingga 20 kilogram kedelai, atau 600 potong tempe lapis. Ia biasanya menjual tempe produknya berkeliling kampung. Disamping menjualnya di pasar Ploso.
“Kalau harga biasanya 3 potong Rp 1.000, sehari biasanya dapat Rp 220 ribu,” rincinya. Beredarnya tempe tipis dengan bungkus daun jati ini pun terbilang masih beredar di wilayah utara Brantas. Mulai di Ploso hingga Kabuh. “Pasarnya masih disini saja, kalau tempe lapis begini belum sampai keluar,” pungkas Sulianto. (*)
Editor : Binti Rohmatin