Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Desa Pulogedang Tembelang, Kampung Salak dengan Varietas Tiga Rasa

Binti Rohmatin • Senin, 27 Januari 2020 | 18:44 WIB
Desa Pulogedang Tembelang, Kampung Salak dengan Varietas Tiga Rasa
Desa Pulogedang Tembelang, Kampung Salak dengan Varietas Tiga Rasa

JOMBANG – Kabupaten Jombang punya varietas buah salak yang sangat unik, namanya adalah salak doyong. Disebut unik, karena tiga rasa  menyertai rasa asli salaknya. Dan varietas ini hanya bisa ditemukan di Desa Pulogedang, Kecamatan Tembelang.


Salah satu dusun yang menjadi sentra salak doyong, adalah Dusun Ponen, Desa Pulogedang. Sejak masuk ke dusun yang berada di pinggiran Sungai Brantas ini, suasana asri sudah terlihat. Di sepanjang pinggir jalan, pohon salak terlihat dimana-mana.


Pohon-pohon salak ini, terlihat ditanam di sekiling rumah, beberapa ada yang menanamnya di kebun belakang rumah. “Memang kalau di sini hampir semua rumah punya tanaman salak, entah sedikit, entah banyak semuanya rata-rata menanam,” terang Sofwan Chumaidi, salah seorang petani salak.


Ia menyebut, saking banyaknya luas kebun salak di dusun ini jika ditotal bisa mencapai 10 hektare. “Itupun baru Dusun Ponen saja, belum lima dusun lainnya yang juga banyak warga yang punya tanaman ini,” lanjutnya.


Warga Pulogedang, biasa menyebutnya dengan salak doyong. Tak ada alasan khusus kenapa salak ini dinamai dengan doyong. Meski begitu, jenis salak ini lebih dikenal luas dengan salak tiga rasa.


“Jadi disebut tiga rasa itu memang karena buahnya rasanya menyerupai tiga buah lainnya, ada yang mirip rasa apel, rasa nangka dan durian. Sudah ada penelitiannya juga dari balai pertanian tahun 2003 lalu” ucap pria 57 tahun ini.


Secara khusus, Sofwan menyebut perbedaan salak ini dengan salak jenis lainnya bukan hanya  tiga rasanya. Warna kulitnya juga terlihat lebih cerah, jika dibandingkan dengan salak pondoh yang cenderung gelap. Salak ini, juga bisa diidentifikasi dari warna daging buahnya yang lebih kekuningan.


Namun yang paling terasa, adalah kesegarannya. Ya, salak doyong memang terkenal berkadar air lebih tinggi dan campuran rasanya beragam. “Kalau digigit itu lebih banyak airnya, walaupun sudah sampai masir, airnya tetap banyak. Rasanya juga ada asamnya walaupun tetap dominan manis, jadi memang lebih segar kata banyak orang,” imbuh Kepala Dusun Ponen ini.


Hingga kini, salak ini memang hanya bisa ditemui di Desa Pulogedang saja. bahkan, pohon-pohon yang ada ini, disebut Sofwan sudah diwariskan turun-temurun. “Jadi kalau salak itu kan tidak bisa mati, cuma roboh terus muncul lagi baru di ujung robohannya, terus begitu. Jadi yang di sini rata-rata sudah ratusan tahun umurnya,” tambah Sofwan. (*)

Editor : Binti Rohmatin