Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Jombang Darurat Hama Tikus, Perburuan Dua Jam Saja Dapat 400 Ekor

Binti Rohmatin • Sabtu, 11 Januari 2020 | 19:13 WIB
Jombang Darurat Hama Tikus, Perburuan Dua Jam Saja Dapat 400 Ekor
Jombang Darurat Hama Tikus, Perburuan Dua Jam Saja Dapat 400 Ekor

JOMBANG – Serangan hama tikus terus menjadi momok bagi petani. Selain sulit dikendalikan, populasi hewan pengerat juga tinggi, terlihat dari hasil pengomposan yang dilakukan petani Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh Jumat kemarin (10/1).


Hanya dalam hitungan sekitar dua jam, ratusan hama tikus berhasil dibasmi. “Ini tadi mulai pukul tujuh sampai sembilan pagi, dapat sekitar 400 ekor tikus,” terang Syaiful petani lainnya.


Pantauan di lokasi, empat petani tengah sibuk mencari lubang tempat persembunyian tikus. Mereka pun menyisir bagian talud sawah. 


Kholik, salah seorang petani lainnya menerangkan, serangan hama tikus sudah lama menyerang wilayah sawah petani di wilayahnya. “Sekarang ini sudah ampun-ampun kena hama tikus terus. Hasil panen tidak pernah maksimal. Sekarang ini serangannya malah lebih parah,” katanya. 


Keempat petani ini membagi tugas, satu petani mengoperasikan alat pengompos, sebagian menyiapkan belerang dan mencari lubang tikus serta dua petani lainnya bersiap dengan membawa pentungan.


Begitu mendapati lubang persembunyian tikus, merekapun langsung siaga. Setelah dimasuki belerang, selanjutnya disembur api.  


Lantaran terganggu dengan asap belerang, hewan pengerat ini pun keluar dengan kondisi agak sempoyongan. Sejumlah petani yang sudah siaga dengan pentungan langsung bergerak cepat memukul tikus. “Sudah seminggu ini kita setiap hari nyari tikus, tapi sepertinya tikusnya tikusnya tidak habis-habis,” imbuhnya.


Menurutnya, upaya pembasmian hama tikus memang harus dilakukan petani di wilayahnya. Sebab, bersamaan musim taman pertama ini, serangan hama tikus terus menjadi-jadi. “Mulai pembibitan sudah diserang. Kalau terus-terusan begini, tidak ditangani bisa-bisa tidak jadi tanam,” bebernya.


Untungnya, beban petani sedikit bisa terkurangi lantaran ada bantuan dari pemerintah desa untuk kegiatan pengomposan. “Sebelumnya sudah ada perorangan, biar lebih efektif ini tadi dapat bantuan desa. Kurang tahu kalau dari dinas bagaimana?” terang Kholik sembari memasang belerang pada lubang tikus.


Meski sudah banyak hama tikus yang berhasil dibasmi, hingga sekarang para petanis di wilayahnya masih terus waswas untuk bercocok tanam. “Sebab, masih banyak yang bersarang, sepertinya yang berhasil dipaksa keluar tikus yang besar-besar,” bebernya.


Senada Sunardi petani lainnya mengakui, hingga saat ini serangan hama tikus belum sepenuhnya terkendali. “Ini masih waswas, kalau tanam jangan-jangan nanti diserang lagi,” kata Sunardi. 


Menurutnya, selain melakukan pengomposan, sejumlah upaya lainnya juga sudah dilakukan petani untuk membasmi hama tikus. Di antaranya memasang racun hingga membuat jebakan yang dialiri listrik. “Ternyata masih ada saja serangannya. Mudah-mudahan pakai ini (pengomposan, Red) bisa sedikit membantu,” pungkas Sunardi kemudian bergabung bersama petani lainnya. 


Pantauan di lokasi, ratusan bangkai tikus yang berhasil diburu petani, selanjutnya ditaruh di sepanjang jalan.


Sementara itu hama tikus juga menyerang tanaman petani Dusun Penampan, Desa Kedungpapar, Kecamatan Sumobito. Menanggulangi serangan hama tikus, petani bahkan siang malam rela berburu tikus.


”Kemarin kami gropyokan malam-malam. Tapi banyak yang lari tikusnya. Kalau malam sulit dikejar,” terang Basuki Rahmad, ketua Poktan.


Seolah tak puas, Jumat (10/1) para petani kembali turun ke sawah berburu tikus. Dengan alat seadanya, seperti pentungan dan cangkul, petani menyisir tempat-tempat yang diduga menjadi lokasi persembunyian tikus. ”Cara ini merupakan cara tradisional dari nenek moyang sejak dahulu,” imbuhnya.


Pantauan dilokasi, tampak sejumlah petani memburu tikus dengan cara membuka lubang tempat tikus bersembunyi. Mereka menggunakan alat seadanya seperti, tongkat dan cangkul.


Berbeda dengan cara pengomposan yang menggunakan elpiji dan belerang. Sistem Gropyokan dinilai cukup efektif untuk membasmi tikus. ”Ini tadi kita ramai-ramai. Alhamdulillah dapat lumayan banyak,” tambahnya. 


Menurutnya, serangan hama tikus telah merusak tanaman petani, padahal baru saja ditanam. ”Di sini tikusnya sudah meresahkan, sebab tanaman yang baru benih saja sudah dimangsa. Mangkanya ini kita basmi bareng-bareng,” papar dia. 


Dari lahan kisaran satu hektare, total ada 10-15 persen yang rusak diserang tikus. Petani merasa kesal lantaran hasil panen musim kemarin mengalami penurunan cukup signifikan. ”Turunnya banyak kemarin, mangkanya kita basmi ini,” tandasnya. 


Dia berharap, Dinas Pertanian Jombang  lebuh memerhatikan nasib petani. Khususnya membantu menyediakan alat dan obat untuk membasmi tikus. ”Harapannya untuk membantu men-support kami dan menyediakan bantuan untuk para petani,” pungkasnya.


Sebelumnya, Priadi Kepala Dinas Pertanian Jombang menyebut, petani dan petugas penyuluh lapangan tengah melakukan pengendalian masal. ”Jadi mulai beberapa waktu kemarin, kita sudah mulai bersama petani,” ujar dia. (*)

Editor : Binti Rohmatin