JOMBANG - Hama wereng yang menyerang wilayah Kesamben diakui Koordinator PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) Kecamatan Kesamben, Syamsul Arifin. Sedikitnya ada dua desa yang sudah dilakukan penyemprotan bersamaan. Masing-masing Desa Pojokrejo dan Desa Kesamben.
Menurutnya, penyemprotan dilakukan lebih dari dua minggu lalu, tepat menjelang panen. Mengingat kedua desa di wilayah Kesamben merupakan tanam paling awal. “Kesamben dan Pojokrejo itu tergolong tanam dulu, tidak ada banjir sehingga pertumbuhan padi lebih baik,” kata Syamsul dikonfirmasi, kemarin.
Karena tak mengelami kendala, padi yang tinggal menunggu masa panen jadi sasaran hama wereng. Berdasarkan data penyemprotan yang sudah dilakukan, luasnya hingga mencapai 25 hektare. “Terakhir kemarin sekitar 25 hektare. Itu diutamakan yang sudah kena. Kan disana (Kesamben, Red) sudah ada regu semprot, diarahkan ke yang kena kemudian menyebar di kanan dan kiri,” jelasnya.
Meski penyemprotan sangat luas menurut dia, hama itu tak sampai membuat serangan berdampak signifikan. “Kemarin itu muncul populasi yang agak kecil, mengetahui itu kita lansung melakukan penyemprotan,” imbuh dia.
Langkah itu dilakukan supaya hama tersebut tak semakin menyebar. Mengingat di wilayah kesamben lain tanaman padi rata-rata masih berusia muda setelah tanam ulang akibat terdampak banjir. “Teman-teman sudah kita sampaikan untuk antisipasi wereng. Khawatirnya ketika tikus mulai turun, jangan-jangan masih ada hama wereng. Pokoknya jangan sampai wereng tidak terdeteksi,” ungkap dia.
Jika tak terdeteksi penyebaran akan semakin luas. “Makanya setelah ada laporan itu, kita langsung penyemprotan supaya tidak meluas ke tanaman yang lain,” beber Syamsul. Dia mengaku, dua wilayah tanam awal tersebut tinggal menunggu panen. Dari hitungannya kurang dari 15 hari sudah mulai panen. “Sekitar 10 hari lagi Kesamben dan Pojokrejo sudah panen. Mudah-mudahan nanti tidak muncul hama lain, seperti ulat. Biasanya setelah wereng itu ulat,” jelasnya.
Hama wereng sendiri merusak padi petani. Hingga membuat bulir tak berisi alias garing seperti terbakar. “Wereng itu menyerang batang, istilahnya mulut itu penusuk dan penghisap hampir sama dengan nyamuk. Setelah itu ketika parah, batangnya membusuk,” pungkas Syamsul. (*)
Editor : Binti Rohmatin