Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Jual Beli Emas ‘Rosok’ di Pasar Citra Niaga, Emas Rusak Diolah Lagi

Binti Rohmatin • Rabu, 6 Maret 2019 | 15:31 WIB
Jual Beli Emas ‘Rosok’ di Pasar Citra Niaga, Emas Rusak Diolah Lagi
Jual Beli Emas ‘Rosok’ di Pasar Citra Niaga, Emas Rusak Diolah Lagi

JOMBANG - Banyaknya toko perhiasan di Pasar Citra Niaga tak membuat surut pedagang emas kaki lima. Sampai sekarang mereka tetap memilih bertahan menempati emperan toko.


Sama halnya dengan pasar pada umumnya, aktivitas ekonomi di kawasan perdagangan di PCN kemarin pagi masih begitu terasa. Baik penjual maupun pembeli nampak sibuk dengan aktivitasnya. Tak terkecuali di area depan yang lebih banyak didominasi toko perhiasan.


Siapa sangka, meski sudah terdapat toko perhiasan emas, para pedagang emas kaki lima sampai sekarang masih tetap memilih bertahan. Salah satunya Siti Khoirun Ummatin, dia mengaku sudah 32 tahun menggeluti jual beli emas.


“Sudah lama, waktu masih nempati pasar lama sudah jual beli emas,” kata Siti. Dia tidak sendiri menjual dan membeli emas, terkadang ditemani sang suami Supriono. “Dari dulu sama suami,” imbuh dia. Karena pedagang kaki lima, maka emas yang dijual ataupun dibeli berbeda dengan yang ada di toko.


“Kalau di toko itu perhiasan lengkap, ada surat-suratnya juga. Harganya juga sudah ditentukan. Sedangkan yang rosok itu disamakan emas batangan, jadi dilihat kadar emasnya terlebih dahulu,” sambung salah seorang warga Desa/Kecamatan Jombang.


Menurut dia, sampai sekarang masih ada lima orang pedagang yang masih bertahan. Semuanya menempati emperan toko perhiasan yang ada. Mereka biasanya menyebut pedagang emas rosok.


Maklum masih menurut Siti, emas yang dibeli biasanya emas yang kondisinya sudah tidak utuh alias rusak. “Kadang ada yang sudah patah, terkadang sudah nggak lengkap tidak ada surat-suratnya,” papar dia.


Dari sekian lama dia menggeluti usaha itu, selama ini memang lebih banyak membeli emas daripada menjual. Harganya menentukan kadar emas yang ada. Semisal kemarin, untuk emas dengan kadar 40 persen dibeli Rp 200 ribu per gram.


“Sedangkan yang 70 persen itu 350 ribu, sementara yang kadarnya 75 persen 380 ribu per gramnya,” sebut dia. Untuk membeli emas itu, mereka biasanya mengecek terlebih dahulu dengan menggunakan alat yang disediakan.


Ada timbangan dan alat lainnya berbentuk kotak warna hitam disertai cairan macam obat tetes untuk mengecek kadar emas. Tak jarang, selama ini Siti mengaku pernah tertipu dari hasil pembelian emasnya. “Pernah dulu tapi ya tidak sering, sudah saya beli ternyata bukan emas,” ungkap Siti.


Emas yang dibeli itu lanjut dia, kemudian dijual lagi. Namun tidak dalam kondisi semula. “Jadi nanti itu diolah lagi digiling ke adik saya di Ploso sana. Makanya jarang dijual lagi,” papar dia. Meski begitu, untuk jual beli emas kaki lima ini setiap harinya tak selalu ramai.


Untuk sekarang ini misalnya menurut dia, terbilang sepi. “Banyak nunggunya,” beber Siti kemudian tertawa. Tak hanya Siti, pedagang lainnya pun demikian. Lebih banyak  duduk menunggu calon penjual.


Sesekali ada yang mampir, namun karena harganya dirasa tidak cocok mereka akhirnya balik lagi. “Lebih banyak santainya, soalnya nggak mesti,” sahut salah seorang pedagang lelaki yang tengah santai. (*)

Editor : Binti Rohmatin