JOMBANG - Kesuksesan di Jakarta tak membuat Laksamana TNI Slamet Soebijanto lupa kampung halaman. Sebagai ungkapan rasa bangga, Slamet yang menjadi orang penting di jajaran TNI AL, memberi Jombang sebuah pesawat. Kini, pesawat tersebut masih berdiri kokoh di Tirta Wisata Jombang.
Dilansir dari buku Profil Tokoh Kabupaten Jombang yang ditulis Djoko Pitono dan Kun Hartyono, menyebutkan dengan kenang-kenangan pesawat ini seakan membuka mata. Karena banyak yang tidak tahu bagaimana asal muasal pesawat TNI AL itu berada di Taman Tirta Wisata Keplaksari Jombang.
Pesawat itu pemberian dari Slamet Soebijanto pada 14 Mei 2007 lalu, saat masa pemerintahan Bupati Suyanto. Pesawat jenis N-22 Nomad bernomor P-811 sudah dihapus dari aset penerbangan TNI AL sejak 5 September 2006.
Pesawat itu kemudian disumbangkan Laksamana TNI (purn) Slamet Soebijanto ke Jombang. Sebagai tetenger, pesawat itu dibuat menjadi monumen yang hingga kini masih terawat cukup baik di Jombang.
Pesawat ini pun menjadi pusat perhatian pengunjung Tirta Wisata. Terutama anak-anak dan pelajar yang ingin melihat dari dekat pesawat tempur tersebut. Tak heran jika di hari libur, banyak orang tua dan anak-anak yang berkunjung dan menaiki pesawat itu hingga berfoto.
Memiliki karir bagus tentu tidak serta merta didapatkan dengan mudah, tanpa usaha keras dan perjuangan tak kenal lelah. Laksamana TNI (purn) Slamet Soebijanto, putra kedua dari 3 bersaudara pasangan suami istri Imam Ruba’I dengan Siti Aisyah ini dikenal ahli tirakat. Ia rajin puasa daud sejak duduk di bangku SMP sampai sekarang.
Slamet berusaha mencapai puncak karirnya dengan mendekatkan dirinya kepada Allah yang maha kaya, sehingga tidak heran jika Allah memberinya karir yang cemerlang dalam hidupnya di dunia. Ia tekun beribadah dan rajin puasa daud. Saat berpuasa, sama sekali tidak mengganggu meski ia harus menjalankan tugas negara. Puasa daud itu justru menyehatkan tubuhnya. Terbukti hingga usianya yang sudah memasuki 60 tahun, ia masih tetap sehat dan bugar.
Selain puasa daud, ia juga memiliki hobby membaca buku, sejak anak-anak ia tidak pernah terpisah dengan buku, menurut Umi Kulsum sepupu Slamet yang lain, kebiasaan membaca tidak pernah dipaksakan siapapun.
“Mungkin karena puasa dan membaca buku yang membuat dia sukses, tirakatnya Slamet betul-betul total,” tambah Umi, keponakannya yang lain. Slamet yang hobi membaca kadang hingga tidak memerhatikan tempat dan waktu. Tak jarang ia membaca sambil berjalan menuju sekolah di SMAN 2 Jombang. Ya, pada masa sekolah, ia masih berjalan kaki saat bersekolah dari Denanyar menju Jombang kota.
Kebiasaan itu sangat lumrah karena saat itu sepeda ontel masih merupakan hal istimewa dan hanya dimiliki masyarakat golongan menengah ke atas. “Bukunya disengkelitkan di punggung dulu, buku yang dia baca buku pelajaran,” lanjut Umi.
Lebih lanjut ia menyampaikan, Slamet pada masa muda merupakan musisi band kampung yang ia ikuti. Band itu pun bukan hobi utama, karena hanya dilakukan untuk mengisi waktu luang saja.
Menurutnya, ia juga menyukai ayam jago. Tak heran, selama duduk di bangku SMP hingga SMA, ia memiliki beberapa ayam jago yang ia rawat dengan baik. “Tapi ayamnya bukan untuk bertarung, hanya untuk dipelihara saja, karena ia memang suka ayam,” papar sepupu yang sepantaran dengan Slamet ini.
Saat ini seeluruh keluarga Slamet menetap di Surabaya dan Jakarta. Slamet sendiri bertempat tinggal di Jakarta. Maka tak heran meski sudah pensiun, kesibukannya di Jakarta membuat ia jarang berkunjung ke Jombang. “Kadang kalau pulang ke makam, terus mampir ke sini sebentar, terus kembali lagi,” pungkas Umi. (*)
Editor : Binti Rohmatin