Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Sebelum Jadi Aktivis, Wardah Hafidz Pernah Jadi Guru Honorer SMP

Binti Rohmatin • Selasa, 5 Maret 2019 | 22:03 WIB
Sebelum Jadi Aktivis, Wardah Hafidz Pernah Jadi Guru Honorer SMP
Sebelum Jadi Aktivis, Wardah Hafidz Pernah Jadi Guru Honorer SMP


JOMBANG – Selain dikenal sebagai aktifis dan pejuang HAM, Wardah Hafidz merupakan guru dan dosen yang cerdas, tegas dan disiplin. Ia memang sangat mahir berbahasa Inggris sejak masih duduk di bangku sekolah. Ia pun melanjutkan pendidikan tingginya di IKIP Malang (Universitas Negeri Malang, Red) dan Ballstate University, Munsic City, Indianapolis, Amerika Serikat. 


”Mbak Wardah dulu juga mengajar di SMP Khoiriyah Sumobito, beliau mengajar Bahasa Inggris. Saat itu saya dulu masih jadi guru honorer disana,” ujar Sukadi, rekan mengajar Wardah Hafidz. 


Mantan Kabid Ketenagaan Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang ini menuturkan jika Wardah Hafidz merupakan sosok yang sangat peduli dengan lingkungannya. ”Beliau sangat baik kepada siapapun. Saat itu saya mengajar di sekolah yang sama dengan beliau selama 4 tahun,” jelasnya. 


Menurutnya, Wardah Hafidz sangat bertanggungjawab dan mendidik para siswa dengan sangat baik. Hal ini pun diamini Ali Fikri. Ia pun menuturkan jika pemikiran kakaknya ini tidak selalu sama dengan anggota keluarga lainnya. ”Satu keluarga tapi berbeda pendapat itu sudah biasa bagi kami. Bahkan saat lebaran kami selalu berdebat tentang berbagai hal baik politik, kemanusiaan dan sebagainya. Justru kalau tidak berdebat itu tidak afdol,” ungkapnya. 


Namun usai berdebat, silaturahim tetap baik seperti tidak terjadi apa-apa. Sebab mereka sudah biasa dididik untuk saling menghargai satu sama lain. Tak hanya itu, Wardah Hafidz juga sangat giat memberdayakan masyarakat. Bahkan Wardah juga berhasil membantu masyarakat korban lumpur lapindo Sidoarjo untuk melanjutkan hidup. Berbeda, Wardah Hafidz menitikberatkan pembinaan masyarakat pada pola pikir mereka. 


Bila suatu komunitas masyarakat berhasil, maka komunitas ini akan mengajarkan dan memberikan pelatihan ke komunitas lainnya. Sehingga masyarakat berkembang dan mandiri bersama-sama. ”Mbak Wardah ini kan punya jaringan. Beliau sering sekali mengadakan berbagai pelatihan dengan tujuan agar masyarakat berubah pola pikir untuk lebih maju,” pungkas Sukadi.


Wardah Hafidz beberapa kali meraih penghargaan atas sumbangsih yang diberikannya kepada kaum miskin Ibukota. Penghargaan Yap Thiam Hien kepada UPC pimpinan Wardah Hafidz juga diterimanya tahun 2000 lalu. Penghargaan ini diperoleh atas perhatian UPC dalam memperjuangkan penegakan hak-hak ekonomi dan hak-hak sosial rakyat.


”Tahun 2004, Mbak Wardah mendapat anugerah hak-hak asasi manusia dari Memorial Foundation di Korea Selatan,” jelas Ali Fikri lagi kepada Jawa Pos Radar Jombang. Yayasan ini mengumumkan Wardah Hafidz menjadi pemenang Gwangju Prize for Human Rights sebagai pengakuan atas sumbangannya terhadap kemajuan hak-hak asasi kaum miskin dan demokrasi di Indonesia. 


Perempuan yang kini berusia 64 tahun ini telah memberikan sumbangsih demokratisasi di Indonesia, dengan membantu orang-orang miskin di perkotaan untuk mendapatkan hak-hak asasinya meski dihalangi pemerintah. Pada 2005, Wardah juga memperoleh COHREC, Housing Rights Defender Award 2005 atas perjuangannya yang dinilai luar biasa dalam membantu kaum miskin mendapatkan tempat tinggal yang layak. 


Wardah dinilai berjasa besar karena tidak kenal lelah dalam memobilisasi masyarakat miskin, melawan penggusuran paksa dan meningkatkan kemampuan para pimpinan kaum miskin untuk memperjuangkan rumah yang layak bagi masyarakat. Kegiatannya bersama orang-orang miskin di kawasan kumuh itu telah menghasilkan dihormatinya hak-hak rakyat dalam hal perumahan dan pencegahan penggusuran. 


Tidak hanya memperjuangkan tempat tinggal bagi kaum miskin perkotaan, Wardah juga sangat mengutamakan pemberdayaan masyarakat agar bisa mandiri. ”Mbak Wardah itu menekankan pada pola pikir masyarakat itu sendiri. Supaya tidak bergantung pada bantuan dari pemerintah tapi mandiri,” sambung Ali Fikri. 


Pria 56 tahun menambahkan jika paska bencana Tsunami Aceh 2004 lalu, Wardah bersama Konsorsium Kaum Miskin Perkotaan membantu korban selamat untuk kembali ke rumah dan tanahnya. Berdara informasi dari berbagai sumber, Wardah juga membantu 30 komunitas nelayan membangun kembali kehidupannya. Tak kurang dari 1.000 rumah berhasil dibangun kembali. (*)

Editor : Binti Rohmatin