JOMBANG - Namanya Wardah Hafidz. Ia merupakan salah satu aktivis perempuan dan pejuang HAM (Hak Asasi Manusia) asli Kota Santri. Wanita yang gigih melawan ketidakadilan ini lahir di Jombang, tepatnya di Desa/Kecamatan Sumobito pada 28 Oktober 1952 lalu. Putri dari pasangan Khafidhon dan Maryam ini merupakan anak keempat dari 10 bersaudara.
Dibesarkan dalam lingkungan pesantren, keluarga Wardah masih memiliki ikatan keluarga dengan pesantren Tebuireng dan budayawan nasional, Emha Ainun Najib. ”Dari sisi pendidikan, pondasi dan bekal keagamaan yang diberikan keluarga kepada kami itu sama. Minimal benar salatnya, lancar membaca Alquran dan memahami akidah dan akhlak,” ujar Ali Fikri, adik kandung Wardah Hafidz kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Ia menuturkan jika 10 bersaudara ini dididik mandiri dalam berpikir. Mantan Bupati Jombang ini juga menambahkan Wardah Hafidz merupakan salah satu cucu kesayangan dari Mbah Putri (nenek, Red) nya. Sehingga ia memiliki pemikiran yang lebih luas dan merdeka. ”Mbak Wardah jiwa sosialnya memang tinggi. Tapi interaksi saya dengan Mbak Wardah waktu kecil tidak banyak,” imbuhnya. Apalagi saat Wardah melanjutkan pendidikan Mualimat di Yogyakarta hingga IKIP Malang serta pendidikan Strata 2 di Amerika Serikat. Sedangkan ia sendiri menempuh pendidikan di Pondok Gontor.
Ali Fikri mengaku baru bisa intens berinteraksi dengan Wardah sepulang kakak perempuannya dari Amerika Serikat. Meski demikian, Wardah Hafidz sangat perhatian kepada keluarga dan saudara-saudaranya. ”Saat itu saya diberi tas oleh Mbak Wardah dari Amerika. Tasnya saya pakai dari sekolah sampai selesai kuliah,” kenangnya. Bahkan hingga saat ini, Wardah masih begitu perhatian dengan saudara-saudaranya.
Wardah Hafidz memang dikenal sebagai pejuang HAM yang lantang. Ia keras menentang berbagai ketidakadilan dan kekeh memperjuangkan nasib kaum miskin di Ibukota Jakarta. ”Kenapa Ibukota Jakarta? Karena saat itu ketidakadilan paling banyak terjadi disana,” ungkapnya. Wardah bahkan sangat sering berhadapan dengan aparat keamanan pemerintah. Namun ia tetap tenang menghadapinya.
Seperti pada 28 Februari 2000, ia ditangkap polisi bersama staf LBH Jakarta dan 11 orang tukang becak dan dibawa ke Polda Metro Jaya. ”Mbak Wardah saat itu meminta agar tidak usah menyalakan televisi supaya orangtua tidak mengkhawatirkan dirinya,” lontarnya.
Penangkapan tersebut menyusul aksi unjuk rasa yang mereka lakukan di Istana Merdeka, Jakarta sejak pagi hari. Aksi demo ratusan tukang becak yang didampingi Wardah ini ingin bertemu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meminta perlindungan dan keadilan untuk tukang becak. Namun mereka tidak ditahan dan hanya dimintai keterangan oleh aparat. Setelah itu, mereka dipulangkan.
”Mbak Wardah itu memilih meninggalkan profesinya sebagai PNS, dosen di IKIP Malang,” bebernya. Dia memilih meninggalkan kemapanan dan memulai aktifitas baru yang masih gelap di kaca mata orang pada umumnya. Wardah mulai terlibat di aktivitas kaum miskin kota melalui penelitian kaum miskin kota di Jelambar Baru, Grogol Petamburan, Jakarta Barat pada tahun 1993. Ekonomi Indonesia tengah menanjak saat itu. Namun penggusuran-penggusuran pun banyak terjadi.
Ketidakadilan dan kemelaratan yang diabaikan negara membuat Wardah gerah. Ia berusaha mengubah keadaan, memulihkan hak-hak kaum miskin agar lebih kritis dan mengerti haknya. Wardah pun banyak menuai permusuhan dan kerap dianggap sebagai provokator. Hingga suatu hari tempatnya diserbu preman-preman yang tidak suka keberadaannya. Namun Wardah tidak pernah ambil pusing dengan berbagai suara tentang dirinya yang dituduh menjual isu kemiskinan.
Paska Soeharto jatuh, Wardah bersama sejumlah temannya mendirikan UPC (Urban Poor Consortium) atau Konsorsium kaum miskin perkotaan. Organisasi yang dibidanginya dengan manajemen bersifat partisipatif. Ia pun sering membuat geger Jakarta. ”Sampai sekarang Mbak Wardah masih aktif di UPC. Beliau tinggal di Tangerang Selatan,” tandas Ali Fikri.
Meski demikian, Wardah tetap mengikuti perkembangan Kabupaten Jombang hingga kini. Bahkan saat Ali Fikri masih menjabat sebagai Wakil Bupati hingga Plt Bupati Jombang beberapa tahun yang lalu. Wardah Hafidz sering mengingatkannya maupun memberikan sumbangsih pemikiran demi Kota Santri. (*)
Editor : Binti Rohmatin