JOMBANG - Sebagai seorang seniman yang tak berhenti berkarya, Asfandi menapakkan namanya di Kota Santri. Nama kesenian yang digagasnya adalah Gambus Misri. Kemampuan Asfandi dalam mengembangkan seni ini juga tak datang begitu saja. Terlebih dalam penggunaan biola, telah didapatnya sejak dirinya masih berada di Kudus, kota kelahirannya.
Kedekatan dengan KH Hayim Asyari karena Asfandi merupakan salah satu santrinya, sehingga menjadi inspirasi lahirnya kesenian Gambus Misri. “Karena Mbah Pan ngajinya di Mbah Hasyim, kalau masalah seni musik, sejak di Kudus beliau juga sudah menjadi pemain biola di musik yang biasa digunakan Belanda,” jelas Sukamto.
Hal ini diamini Budayawan Jombang Emha Ainun Najib. Cak Nun seringkali menyebut jika kesenian ini pertama dirintis ayah Asmuni. Atas inisiatifnya melihat hiburan lawak di kalangan santri yang masih minim. Saat harus mengundang ludruk atau sekadar melihat ludruk, kala itu berkembang pesat di kalangan kaum abangan, sebuah hal tak pantas bagi kaum santri.
Meski tak diketahui pasti mulai munculnya seni ini, namun menurut Cak Nun, diprakarsai Asfandi dengan menampilkan gambus. Musik ini akrab dengan kaum santri yang ditambahkan lakon dan lawak, disesuaikan dengan nilai agamis kepesantrenan.
“Ludruk lahir dari komunitas abangan, Gambus Misri lahir dari komunitas santri. Ludruk pakai musik dan gamelan Jawa Timur, Gambus Misri pakai musik Melayu setengah Arab. Ludruk mengambil lakon-lakon tradisional Jawa, Gambus Misri ambil tema-tema dari sejarah Islam,” dikutip dari caknun.com
Hal serupa juga disampaikan Nasrul Illah, yang menyebut ada beberapa perbedaan dari orkes gambus dan gambus misri yang berkembang di Jombang. “Kalau gambus misri itu pertunjukan yang terdiri ludruk, ada beberapa step, dimulai dari lagu dan tari javin sebagai bagian pembuka, kemudian ada lawak dan biasa diakhiri dengan lakon yang berupa drama. Secara garis besar masih serupa dengan komedi stambul,” ucapnya.
Meski dirinya mengaku Gambus Misri adalah khas Jombang namun menurut Cak Nas, panggilan akrabnya, masih ada kemungkinan jika penemunya bisa saja bukan Asfandi. Penggunaan kata Misri sendiri, merujuk kepada negara Mesir tempat kiblat musik Islam. Musik yang digunakan pun cenderung berbeda dengan ludruk. Gambus misri lebih menggunkan musik bernada diatonis.
Karena itu penggunaan biola, cello,akordeon, gitar gambus hingga rebana dan jidor lebih menonjol. “Lakonnya juga memakai Bahasa Indonesia dan berbeda dengan ludruk yang memakai Bahasa Jawa dan ceritanya lebih banyak dari kisah 1001 malam dan penyebaran islam, intinya semua berbau agama memang,” lanjutnya.
Meski dalam perkembangannya seni ini mengalami kemunduran jauh dari masa keemasannya dulu. Gambus Misri tetap sebuah seni yang mampu memberikan warna tersendiri dalam kehidupan kesenian di Jombang. Tak saja sajian yang berbeda, nilai yang dibawanya juga terbukti mampu menjembatani keantian kaum santri kepada ludruk dengan segala perangkat dan dampaknya yang seringali dianggap haram.
Di luar itu, Gambus Misri juga merupakan wadah bagi banyak senima ludruk tatkala pelarangan ludruk selama tahun 1965-1970-an. Larena bergabungnya ludruk ke dalam lekra yang erat dengan PKI kala itu. Banyak seniman ludruk yang kala itu nyempal masuk ke Gambus Misri. Tak tanggung-tanggung, Cak Nas juga menyebut lawakan-lawakan srimulat dan gaya pertunjukannya juga merupakan evolusi dari Gambus Misri.
”Tentu ini menurut saya, kita juga harus berterimakasih kepada pak Asfandi, karena Asmuni, Kadir dan lain-lain ya berkembang dari Gambus Misri, dan ternyata mereka mampu memberi warna tersendiri di Srimulat,” pungkasnya. (*)
Editor : Binti Rohmatin