JOMBANG - Rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat profil Bupati Kedua Jombang, yakni Raden Adipati Ario Setjoadiningrat VIII yang memerintah selama 16 tahun yakni mulai tahun 1930-1946.
Lahir pada tanggal 3 Agustus 1897, Kanjeng Setjo panggilan akrabnya adalah anak ketiga dari putra putri R.A.A Soeroadiningrat Bupati Jombang pertama dengan nama kecil Sarwadji. Sebagai penerus sang ayah, Kanjeng Setjo memang tidak saja sekadar menerusi perjuangan Kanjeng Sepuh tanpa persiapan.
Kanjeng sepuh seperti telah tahu benar apa yang harus dipersiapkan dengan baik ketika dirinya nantinya tua dan tak mampu lagi menjabat. Untuk itulah kanjeng Setjo semenjak kecil sudah menerima pelatihan yang baik dari sang ayah serta saat usianya sudah mencukup, dirinya dikirim ke sebuah sekolah kapamongprajan milik Belanda di Blitar yakni Opleding School.
Sebagai suksesor sang ayah, kanjeng Setjo adalah seorang bupati yang turut mengalami masa-masa berat dalam kepemimpinannya karena sepanjang pemerintahannya setidaknya beberapa kali pemerintahan transisi dialaminya. Yakni ketika Belanda tunduk terhadap Jepang yang membuatnya berkuasa di Indonesia hingga transisi pemerintahan pasca-kemerdekaan Bangsa Indonesia tahun 1945.
Sedangkan, arah kebijakan dalam pemerintahannya pun tak berbeda jauh dengan ayahandanya yakni fokus kepada pemberdayaan masyarakat lewat pertanian meski bentuknya cukup signifikan perbedaannya.
“Kalau kanjeng sepuh bentuknya dengan membuat beberapa sungai untuk irigasi serta mengusulkan 13 pabrik gula dengan pertanian sawah, maka Kanjeng Setjolebih menitik beratkan pada pembukaan perkebunan di areal pegunungan juga peningkatan terus perkebunan tebu,” jelas seniman Dian Sukarno, salah satu anggota tim penulis buku Biografi Bupati Jombang.
Hal ini terwujud dengan mulai dikembangkannya berbagai perkebunan karet dan tebu untuk mendorong produktifitas lebih yang tentu saja untuk Belanda dengan pertimbangan kesejahteraan masyarakat. “Terlebih warisan irigasi dari Kanjeng Sepuh kan masih berfungsi dengan baik selain hutan di wilayah Wonosalam masih rimbun,” imbuh Dian.
Berada dalam masa transisi hingga menuju kemerdekaan, Bupati Jombang kedua ini juga tercatat sebagai seorang yang turut berjuang membela tanah air dengan berbagai caranya. Mulai dari membantu gerilyawan, menyiapkan logistik hingga cara-cara yang tak terduga sebelumnya.
Dirinya juga disebut sebut berada dalam posisi yang kurang mengenakkan karena berada pada masa transisi tersebut. Namun semua bisa dilaluinya dengan baik hingga dirinya tak menjabat bupati lagi pasca tahun 1946.
Menjelang masa pensiun dan menjelang era Republik, Raden Adipati Arya Setjoadiningrat VIII mengabdikan hidupnya sebagai Residen di Surabaya sampai masa pensiun. Sebagaimana ayahanda Raden Adipati Arya Soeroadiningrat, ketika wafat padatanggal 9 Juni 1963, jenazah Raden Adipati Arya Setjoadiningrat dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Pulo Sampurno, Kecamatan Jombang.
Saat meninggal,Kanjeng Setjo juga tercatat mempunyai enam putra-putri yaitu Raden Panji Willy Soedjono, Raden Edi Soewondo, Raden Ayu Ani Rochani, Raden Ayu Nora Soetarinah, Raden Poegoeh Soeratno, dan Raden Ayu Mimik Soeseni dari almarhumah istri pertama. Sedangkan dengan istri sambungan Raden Ayu Poppy Kadarin dikaruniahi dua momongan. (berbagai sumber)
Editor : Binti Rohmatin