Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Budidaya Tanaman Karnivora di Jombang Bergeliat, Makannya Lalat

Binti Rohmatin • Kamis, 28 Februari 2019 | 02:44 WIB
Budidaya Tanaman Karnivora di Jombang Bergeliat, Makannya Lalat
Budidaya Tanaman Karnivora di Jombang Bergeliat, Makannya Lalat

JOMBANG - Budidaya tanaman hias jenis pemakan serangga mulai diminati di Kabupaten Jombang. Salah satunya ditanam Rudi Hidayatulloh, warga Dusun Jasem, Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek.


Sore itu, hujan masih rintik. Udara dingin menyapa warga yang tinggal di Dusun Jasem, Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Begitupula dengan yang dilakukan Rudi, dia terlihat tergesa-gesa menutupi sejumlah tanaman dengan terpal. Sebagian juga dia angkut ke teras agar tidak kehujanan.


Ya, Rudi sudah beberapa bulan ini intens merawat bibit tanaman hias jenis karnivora. Dikatakan karnivor, karena tanaman ini memakan jenis serangga seperti lalat, laba-laba, nyamuk hingga semut dan jenis hewan lainnya. Beberapa tanaman hias yang ditanam Rudi misalnya drosera sessilifolia (tanaman embun pagi), nepenthes (kantung semar) dan dionaea muscipula atau yang biasa disebut venus flytrap (jebakan lalat).


”Masing masing tanaman butuh perawatan sendiri, misalnya untuk menyirami tidak boleh menggunakan air biasa. Namun menggunakan air yang rendah mineral seperti air hujan, air AC dan air botol kemasan yang kadar mineralnya rendah,” ujar dia.


Dijelaskan, tanaman tanaman tersebut sangat peka terhadap sentuhan. Apalagi serangga, saat ada serangga yang hinggap maka tanaman tersebut akan menutup dengan cepat. Misalnya seperti embun pagi, di bagian pucuk bunga terdapat bulu bulu yang berwarna cukup unik berwarna pink keputih-putihan. Namun ternyata bulu itu sangat lengket dan mengandung zat racun bagi serangga.


”Jadi kalau ada lalat yang menempel akan terjebak di bulunya. Lalat itu akan mati dan akan dicerna oleh si tanaman dalam waktu 1 x 24 jam,” sambung pria berambut panjang ini.


Selain tanaman embun pagi, ada juga tanaman kantung semar dan venus. Tanaman ini punya ciri yang hampir mirip dalam menangkap serangga. Dimana saat ada serangga yang masuk ke mulut tanaman otomatis akan menutup dan serangga akan mati dengan sendirinya. ”Karena serangganya tidak bisa keluar, dan mati di dalam,” beber dia.


Perawatan tanaman karnivora tersebut memang susah-susah gampang. Asalkan telaten pasti bisa hidup dan berkembang dengan baik. ”Tidak sulit sebenarnya. Hanya butuh sinar matahari cukup ditambah air non-mineral yang cukup pula,” beber dia.


Selain itu, kata Rudi, tanaman tersebut tidak bisa ditanaman pakai tanah. sehingga harus menggunakan lumut khusus sebagai pengganti gambut sesuai daerah asalnya, Kalimantan. ”Jadi sebagai pengganti tanah kita beli lumut khusus ini, dapat dibeli melalui online sekitar Rp 250 ribu,” papar dia. 


Tanaman tersebut juga bisa jadi ladang usaha sampingan, ini setelah harga pasaran per tanaman cukup mahal. Untuk satu tanaman embun pagi ukuran 2 cm dijual Rp 30 ribu, sedangkan tanaman venus lebih mahal biasanya Rp 250 ribu untuk ukuran 6 cm.


Sementara untuk kantung semar dijual Rp 60 ribu per tanaman. ”Itu menghitungnya per tanaman ya. Bukan per pot. Kalau di pot mereka hidup berkoloni, jadi harganya tinggal mengalikan jumlat tanaman di pot tersebut,” jelas nya.


Selain kegemaran, menanam tanaman jenis karnivora juga ada untungnya. Khususnya dapat memakan nyamuk saat musim hujan seperti ini. bayangkan saja, satu tanaman bisa menangkap beberapa nyamuk dalam sehari. ”Tinggal mengalikan jumlah tanaman itu dalam satu  pot, kalau banyak ya makin banyak pula yang ditangkap,” pungkasnya. (*)

Editor : Binti Rohmatin