JOMBANG - Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang kembali mengangkat seniman, yakni ludruk. Perjuangannya yang dilakukan dari jalur kesenian juga dilakukannya total dan membuat namanya terus dikenang hingga kini. Bahkan diabadikan sebagai nama gedung kesenian di level provinsi.
Ya, nama tersebut adalah Gondo Durasim atau yang lebih dikenal dengan sapaannya Cak Durasim. Seniman ludruk dengan segala keberaniannya ini adalah kelahiran Jombang asli, meski kini sering diakui keberadaannya sebagai seniman asal Surabaya. Maklum, pria kelahiran Kaliwungu Jombang ini memang lebih dikenal karena karyanya di Surabaya berkat keberaniannya melancong ke kota besar.
“Aslinya ya kaliwungu, cuman karena di Jombang waktu itu seniman ludruk dan grup ludruk semacam itu telah banyak di Jombang, Cak Durasim lebih memilih mboro ke Surabaya, dengan harapan kan disana perputaran uang lebih besar karena juga kota besar,” jelas Nasrul Illah, budayawan Jombang, beberapa waktu lalu.
Namanya kian terkenal di Surabaya ketika dirinya mampu membuat grup ludruk Surabaya. Cak Durasim adalah seorang seniman penggagas berdirinya kelompok kesenian ludruk Surabaya sekitar tahun 1930-an. Cerita yang tak lagi datar dengan penggabungan beberapa sandiwara dan drama lain, membuat ludruk dibawah pembawaannya kian diminati masyarakat luas.
Sebagai seorang praktisi dan seniman ludruk, kemampuan yang dibawanya dari Jombang dengan kesenian ludruknya mampu ia kembangkan dengan baik. Dikutip dari buku Tokoh Jombang karya Djoko Pitono, tak saja sekedar memainkan ludruk, Cak Durasim juga dinilai memberikan sentuhan modernisasi pada seni ludruk yang ia kembangkan setelahnya di Surabaya.
“Penampilan ludruk Cak Durasim ini disebut jauh lebih modern. Setiap pertunjukan ludruk yang digelarnya sudah termasuk satu kesatuan dari tari remo yang menampilkan kepahlawanan. “Juga dagelan sebagai sisipan dan baru kemudian masuk ke inti cerita,” tulis Djoko dalam karyanya tersebut.
Bahkan oleh Heru Cahyono, salah satu dalang asli Jombang, ludruk yang diperankan Cak Durasim kini tak banyak lagi dilakukan oleh seniman sekarang. Karena dianggapnya realistis dan peka terhadap kondisi sosial.
“Yang beliau tampilkan itu apa yang ada di masyarakat, bukan citra yang dibenar-benarkan.. karena untuk penampilan ludruk di jaman itu, pemain biasa memang melakukan riset kecil-kecilan dulu sebelum pentas untuk mampu membaur dengan isu yang lagi hangat di masyarakat sekitar. Inilah yang membuat karya belaiu sangat langka hari ini,” jelas pria yang bertugas di Disbudar Jombang ini.
Selain dikenal sebagai seniman khas dan orisinil dengan bentuk karyanya, Cak Durasim juga seringkali menyisipkan kritik-kritik terhadap pemerintahan kolonial Jepang di era ludruknya sedang besar. Sebuah perlawanan melalui seni mampu ditularkannya dengan baik sehingga nilainya dikenang hingga kini.
Atas keberanian dan jasanya, baik untuk dunia seni maupun perjuangan memperoleh kemerdekaan, dibangunlah sebuah gedung kesenian di Surabaya dengan namanya, yakni gedung kesenian Cak Durasim yang berlokasi di Jalan Genteng Kali 85 Surabaya. (*)
Editor : Binti Rohmatin