Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Di Dusun Ngepeh, Makam Tiga Agama Satu Lahan, Pakai Salib Tak Dilarang

M Nasikhuddin • Senin, 25 Februari 2019 | 03:01 WIB
Di Dusun Ngepeh, Makam Tiga Agama Satu Lahan, Pakai Salib Tak Dilarang
Di Dusun Ngepeh, Makam Tiga Agama Satu Lahan, Pakai Salib Tak Dilarang




JOMBANG - Warga Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, memang sudah lama terkenal dengan kerukunannya. Ada tiga pemeluk agama di dusun ini, Islam, Kristen dan Hindu. Tempat ibadah setiap agama lokasinya berdekatan. Bahkan makam warga juga berada dalam satu lahan. 



Namun akhir-akhir ini peristiwa penolakan jenazah warga non muslim yang dimakamkan dalam satu lahan dengan makam muslim, terjadi di sejumlah daerah. Peristiwa itu tidak memengaruhi kehidupan rukun warga Dusun Ngepeh. Sudah menjadi tradisi turun temurun, tiga pemeluk agama hidup berdampingan dengan toleransi tinggi.



Bersama Slamet Harianto, 62, juru kunci makam, Jawa Pos Radar Jombang kemarin (23/2) mendatangi lahan yang menjadi makam tiga pemeluk agama di Dusun Ngepeh. “Di dusun ini memang ada tiga agama, makamnya juga jadi satu. Tidak pernah ada masalah, sudah sejak jaman mbah buyut sampai sekarang ya hidup rukun,” katanya.



Slamet mengaku sudah 10 tahun menjadi juru kunci makam, dan ia merupakan juru kunci generasi ke-5. Setiap ada warga yang meninggal, baik itu muslim atau non muslim, Slamet mengaku harus mempersiapkan segala kebutuhan. “Warga lainnya juga ikut membantu. Meskipun yang meninggal Kristen atau Hindu, warga Islam tetap bantu,” lanjutnya.



Warga yang berada di makam membantu menggali tanah, sedangkan yang berada di rumah duka membantu menyiapkan perlengkapan. Mulai dari pengeras suara, tenda dan kursi untuk pelayat, hingga perlengkapan memandikan jenazah. “Biasanya gantian, kalau yang meninggal warga Islam, warga Kristen dan Hindu yang membantu. Begitu juga sebaliknya,” tambahnya.



Tak hanya berada dalam satu lahan, letak makam pemeluk agama Islam dan Hindu juga dicampur. “Disini yang dibedakan lokasi makamnya hanya yang Kristen,” imbuh Slamet.



Penyebabnya hanya teknis, posisi makam pemeluk agama Kristen arahnya membujur barat-timur. Sedangkan makam pemeluk agama Islam dan Hindu, arahnya membujur utara-selatan. Slamet menyebut kalau makam pemeluk agama Kristen dicampur dengan Islam dan Hindu, akan jadi terlihat semrawut. “Karena posisinya tidak sama, akhirnya dibedakan. Tapi tetap dalam satu lahan,” tambahnya.



Tentang proses pemakaman, Slamet berkata dilaksanakan menurut kebiasaan agama masing-masing. Tidak pernah ada larangan, misalnya pemeluk agama Kristen melakukan kebaktian di saat prosesi pemakaman. “Yang Islam seperti biasanya, Kristen dan Hindu juga sama. Pakai salib juga tidak apa-apa,” ujar Slamet.



Contoh lain dari kerukunan beragama di Dusun Ngepeh adalah pemeluk agama Kristen dan Hindu tak segan membayar iuran kebersihan makam. “Disini setiap tiga bulan sekali bayar 5.000 per rumah,” ucapnya.



Turut berpartisipasinya warga muslim membantu proses pemakaman warga Hindu dibenarkan Sukirno, salah satu bedanda (pemuka agama Hindu) di Dusun Ngepeh. Pihaknya justru merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan dari masyarakat pemeluk agama Islam, saat ada warga Hindu yang meninggal. “Kami sangat terbantu, sebab banyak perlengkapan yang harus disiapkan untuk upacara pemakaman. Kebersamaan ini sudah berlangsung lama, turun temurun,” katanya.



Ketika ada warga pemeluk agama Islam yang meninggal, Sukirno berkata warga Hindu ganti membantu prosesi pemakaman. “Ya ikut ke makam, ikut menggali tanah, dan membantu menyiapkan perlengkapan pemandian jenazah juga. Tidak ada masalah diantara kami meski berbeda keyakinan,” tambahnya. Karena itu dirinya mengaku prihatin dengan adanya peristiwa penolakan jenazah warga non muslim dimakamkan dalam satu lahan dengan makam muslim di sejumlah daerah.



Pernyataan senada juga disampaikan Sandra, salah satu pemeluk agama Kristen di Dusun Ngepeh. Menurutnya kerukunan beragama di Dusun Ngepeh hampir tidak pernah terusik, meski saat ini konflik atas nama agama kerap terjadi di beberapa daerah. “Karena rasa toleransi sudah tertanam turun temurun. Makam kami jadi satu, tempat ibadah juga berdekatan. Tidak pernah ada masalah,” katanya.



Kepala Dusun Ngepeh, Sungkono mengatakan, sejak lama tiga umat beragama di tempatnya mampu tumbuh dan hidup dengan sangat toleransi. Mayoritas bisa mengayomi minoritas, sebaliknya yang minoritas mampu menghormati mayoritas. Jumlah penduduk di Dusun Ngepeh kurang lebih 1.500 jiwa.



Untuk masyarakat yang beragama Kristen, terdapat kurang lebih 80 jiwa. Sedangkan yang beragama Hindu terdapat kurang lebih 60 jiwa. Sisanya adalah masyarakat Muslim. “Mereka yang Kristen atau Hindu, tak pernah merasa terganggu dengan speaker (pengeras suara) masjid. Warga muslim juga tak pernah risih dengan adanya kebaktian di gereja dan sembahyang di pura,” imbuhnya.



Terkait lahan yang dijadikan makam tiga pemeluk agama, Sungkono mengatakan statusnya adalah aset desa. “Agama apapun, kalau itu adalah warga Dusun Ngepeh, boleh dimakamkan. Hanya memang untuk yang Kristen diletakkan sisi utara karena posisi makamnya berbeda. Tapi itu hanya faktor teknis saja, tidak ada masalah,” pungkasnya. (*)


Editor : M Nasikhuddin