JOMBANG - Sempat jadi salah satu sentra penjualan buah salak pada 1980-1990-an, kini penjual salak pinggir Jalan Raya Desa Sentul tinggal satu penjual. Jumlah pembeli turun drastis.
Sepi, itulah yang terlihat pada lapak-lapak pedagang salak di samping jalur provinsi Desa Sentul, Kecamatan Tembelang siang kemarin. Dari tiga lapak berbahan bambu di lokasi ini, kemarin terlihat hanya satu yang digunakan dan berisi penjual.
Itupun dengan buah seadanya, hanya tiga sampai empat dompol buah salak yang terlihat dipajang di lapak ini. Sisanya, hanya beberapa buah yang terlihat sudah dilepas dari tangkainya dan dibungkus keranjang plastik.
Hampir satu jam, Jawa Pos Radar Jombang menunggu di salah satu lapak yang siang itu tengah buka. Namun, tak satupun pembeli juga datang mengunjungi lapak ini. “Memang sepi mas, yang jualan hari juga cuma saya saja, yang lain sudah tak lagi jualan,” ucap Isa, 45 salah satu penjual.
Menurutnya, beginilah kondisi dagangan salak di lokasi itu tiap harinya di hari-hari biasa. Minimnya buah salak di tingkat petani akibat serangan tikus, serta belum saat panen raya, ditambah minimnya jumlah pembeli yang datang memang membuat pedagang tanpa pembeli.
“Ya memang sepi, kalau kondisi begini mentok satu hari paling bisa bawa Rp 100 ribu itu sudah bagus, pulang tidak bawa uang juga sering,” lanjutnya.
Saat masih laris, Pemkab Jombang pada 2003 dulu sempat membangunkan sekitar 22 kios semi permanen dari papan. Namun kios bantuan yang mundur ke belakang itu nyaris tak ada yang menempati. Hanya ada dua pedagang yang sempat menempati, namun karena tak ada pembeli, akhirnya kembali di pinggir jalan.
“Kalau dulu nggak kuatir sampai busuk salaknya, artinya tiap hari pasti ada saja yang datang dan beli. Terus belum banyak juga penjual buah keliling, jadi di sini ramai,” imbuhnya.
Akibat kelesuan usaha ini, banyak diantara teman-temannya sesama penjual salak yang akirnya memutuskan berhenti. Jumlahnya pun puluhan. “Kalau dulu total 26 orang yang jual, sekarang tinggal tiga sampai empat orang saja, itu juga tidak selalu berjualan. Yang lain ada yang pindah ke pasar, ada yang jadi penjual makanan di rumah dan lain-lain, ya alasannya karena sepi itu,” sebut ibu empat anak ini.
Hingga kini, pedagang yang masih bertahan pun disebutnya harus terus memutar otak untuk bisa terus bertahan. Caranya dengan menggunakan lapak tak saja untuk berjualan salak.
“Kalau saya biasanya tinggal musimnya. Untuk salak sudah pasti jualan. Tapi kalau sedang musim mangga ya jualan mangga, dengan itu bertahannya,” ucapnya.
Sehingga dirinya bersama pedagang lain, saat ini juga selalu menunggu musim buah. Juga menunggu momentum-momentum tertentu. “Paling ramai ya harus menunggu sebelum hari raya. Biasanya, itu pasti ramai. Yang jualan juga jadi empat sampai lima orang, tapi setelah itu biasanya ya kembali lagi,” pungkasnya. (*)
Editor : Binti Rohmatin