Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Sepi Pembeli, Perajin Wajan Raksasa di Bareng Tak Produksi Setiap Hari

Binti Rohmatin • Selasa, 29 Januari 2019 | 23:43 WIB
Sepi Pembeli, Perajin Wajan Raksasa di Bareng Tak Produksi Setiap Hari
Sepi Pembeli, Perajin Wajan Raksasa di Bareng Tak Produksi Setiap Hari

JOMBANG – Perajin wajan di Desa Muranggung, Kecamatan Bareng mulai sepi permintaan. Mereka pun tidak bisa memproduksi wajan setiap harinya. Hadi Santoso, adalah salah satu perajin wajan besi berukuran jumbo yang mengalami kondisi seperti itu.


Hadi juga merupakan penerus dari pengusaha pertama yang ada di Dusun/Desa Muranggung, Kecamatan Bareng. Usaha itu ditekuni ayahnya sejak 1942 dan berjalan secara turun-temurun. Sehingga, ia terus melanjutkan usahanya meski saat ini mulai sedikit lesu.


“Untuk wajan yang kami buat minimal berdiameter satu meter, bahkan bisa lebih tergantung pemesanan,” ujarnya saat didatangi ke rumahnya kemarin. Ia juga mengatakan, untuk saat ini pembuatan wajan tidak dilakukan setiap hari, berbeda dengan lima tahun yang lalu. Kini, ia membuat wajan hanya dilakukan seminggu satu kali hingga dua kali saja.


”Karena permintaan mulai sepi saat ini mas, terlebih lagi kan wajan ini kuat hingga lima tahun sehingga orang yang memesan baru pesan lagi lima tahun kemudian,” ungkapnya.


Diakuinya, di desanya ada tiga perajin wajan. Sehingga, agar dirinya tetap laris dan terus mendapat pelanggan. Wajannya harus lebih berkualitas dibandingkan dengan yang lain. ”Kalau dulu masih tidak ada saingan jadi masih laris, sekarang bersaing di kualitas agar tetap dapat pelanggan,” bebernya.


Beberapa puluh tahun, saat jaya-jayanya, dirinya bisa membuat dan menjual 200 wajan setiap bulannya. Kini Hadi hanya mampu menjual 20-25 wajan setiap bulan. ”Penurunan permintaan sangat jauh sekali. Makanya itu, saya tidak berani produksi setiap hari, nanti malah rugi,” keluh bapak satu anak tersebut.


Tidah hanya permintaan yang sepi, kendala yang dialami Hadi sebagai perajin wajan merupakan bahan bakunya yang terus merangkak naik. Tahun lalu, dirinya membeli besi di Surabaya dengan harga Rp 7000 per kilo kini Rp 9000 per kilo. ”Sekarang besi tua juga sangat mahal. Jadi terpaksa juga menaikkan harga wajannya,” imbuhnya.


Biasanya dirinya menjual wajan dengan harga Rp 15 ribu per kilo, akan tetapi saat ini dirinya terpaksa menjual dengan harga Rp 18 ribu per kilo, karena harus menyesuaikan harga bahan baku. ”Ya kalau tidak dinaikan bagaimana mau gaji pegawai nantinya, jadi ya terpaksa juga dinaikan harga wajannya,” katanya lagi.


Untuk penjualan, dirinya biasanya menjual ke pabrik-pabrik di Sidoarjo, Gresik dan Surabaya. Kebanyakan yang mengambil merupakan pabrik kerupuk atau makanan ringan. “Untuk Jombang  sendirin biasanya yang memesan pengusaha petis,” ungkapnya.


Meski saat ini usahanya sedikit lesu, akan tetapi dirinya akan terus melanjutkan usahanya tersebut. Selain usaha turun-temurun, usahanya ini sudah cukup untuk membiayai keluargannya. ”Ya semoga saja usaha wajan ini nantinya bisa kembali besar lagi,” harapnya. (*)

Editor : Binti Rohmatin