Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dua Pelajar SMKN Kabuh Olah Daun Bambu Menjadi Teh Herbal

Binti Rohmatin • Selasa, 29 Januari 2019 | 01:05 WIB
Dua Pelajar SMKN Kabuh Olah Daun Bambu Menjadi Teh Herbal
Dua Pelajar SMKN Kabuh Olah Daun Bambu Menjadi Teh Herbal

JOMBANG - Daun bambu bagi sebagian besar masyarakat hanya dianggap sebagai sampah yang harus dibuang dan dibakar. Namun ditangan dua pelajar SMKN Kabuh, daun bambu berhasil diolah menjadi teh herbal yang memiliki aneka khasiat.


Dua pelajar SMKN Kabuh tersebut adalah Nindi Silvi Juliani dan Erina Esa Aisyarah. Inovasi memanfaatkan daun bambu menjadi teh, membuat keduanya meraih juara 2 pada Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) yang digelar Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jombang Oktober 2018 lalu.


Kepada Jawa Pos Radar Jombang, Nindi dan Erina bercerita ide membuat teh dari daun bambu muncul setelah mempelajari sebuah hasil penelitian. Maklum saja, SMKN Kabuh tempat mereka belajar merupakan sekolah dengan bidang kejuruan farmasi dan kimia industri. “Daun bambu mengandung banyak zat aktif, diantaranya polisakarida, flavonoid, vitamin, mikroelemen, klorofil dan asam amino,” kata Nindi.


Dari pelajaran yang kimia yang setiap hari mereka terima, muncul ide untuk mencari daun bambu di pekarangan rumah. “Biasanya pembatas antar pekarangan atau antar wilayah menggunakan bambu, dan ditanam memajang. Banyaknya pohon bambu menimbulkan banyak sampah kering, yang selama ini hanya dibuang atau dibakar,” tambah Erina.


Namun tak semua daun bambu bisa diolah sebagai teh. Menurut Erina, daun bambu yang dipilih adalah yang sudah berumur lebih dari satu tahun. Kemudian berasal dari batang di atas dua meter dari permukaan tanah, dan kurang satu meter dari pucuk pohon. “Daun bambu yang bisa dijadikan teh ini juga yang berasal dari cabang daun ruas kedua dan kelima saja,” tambahnya lagi.


Selain itu, daun bambu yang dipilih adalah yang kondisinya masih segar dan tidak berbecak. “Untuk waktu terbaik dalam memetik daun bambu adalah jam 12 siang,” ujar Nindi, menambahkan.


Dalam proses pembuatan teh, daun bambu yang sudah didapat itu kemudian dicuci menggunakan air bersih untuk menghilangkan debu. Kemudian daun dijemur selama satu jam, namun tidak sampai kering. Baru setelah itu daun dirajang dengan ukuran memanjang setengah sentimeter. Daun bambu rajangan selanjutnya digiling menggunakan blender, agar hasilnya lebih maksimal.


“Baru setelah itu daun bambu dimasukkan tea bag dengan berat bersih satu gram, jadinya nanti seperti teh celup,” ucap Nindi.


Proses mengolah daun bambu menjadi teh yang dijalani kedua siswi ini, tak lepas dari tangan Isnanik Juni Fitriyah, guru pendamping. Isnanik mengatakan, teh daun bambu bisa dihidangkan menggunakan air hangat. Tidak perlu juga menggunakan penambah rasa manis, karena teh daun bambu tersebut sudah memiliki rasa manis walaupun hanya sedikit.


“Karena kadar gula dalam bambu relatif sangat rendah. Namun jika ingin ada rasanya, teh daun bambu dapat ditambah perasan jeruk nipis atau perasaan air lemon agar lebih nikmat untuk diminum,” kata Isnanik. Banyak zat aktif yang terkandung, lanjutnya, daun bambu efektif sebagai alternatif penurun lemak darah dan kadar kolestrol dalam tubuh.


Daun bambu ini menurutnya berkhasiat menurunkan oksidasi atau radikal bebas. “Juga sebagai bahan antipenuaan, menjaga stamina, meningkatkan sistem imun dan mencegah penyakit kardiovaskular,” turur alumni ITS Surabaya yang mengambil  Kimia ini.


Terpisah, Kepala SMK Negeri Kabuh Panca Sutrisno mengatakan, teh daun bambu hasil kreasi siswanya akan dibawa ke Pusat Pengujian Mutu Obat dan Makanan. “Teh ini perlu dilakukan uji laboratorium, agar bisa mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Kami akan mendampingi siswa dalam proses ini,” pungkas Pince. (*)

Editor : Binti Rohmatin