JOMBANG - Selain menara air Ringin Contong, Jombang juga memiliki penanda kota lainnya. Yakni, bangunan menara sirine yang usainya sudah 100 tahun lebih. Baik menara air Ringin Contong maupun menara sirine, keduanya adalah bangunan peninggalan Belanda.
Ada dua bangunan menara sirine, yakni di Jalan Alun-Alun atau selatan Pendopo Kabupaten, dan di Gang Suling ( Jalan Buya Hamka). Lokasi kedua itu warga menyebutnya sebagai Gang Suling karena bunyi sirine mirip dengan bunyi seruling.
Hingga saat ini, kedua sirine masih tetap berfungsi normal. Saat zaman Belanda, sirine digunakan tentara dan penanda pekerja. “Pada zamannya bunyi sirine dipakai penanda waktu masuk kerja, pulang, hingga panggilan apel untuk tentara,” kata Moch.Faisol, salah satu pemerhati sejarah Jombang.
Sirine itu digunakan hingga masa pemerintahan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, sirine itu dipakai penanda berbuka puasa dan imsak (sahur). Sedangkan pada hari-hari biasa, sirine tidak pernah dibunyikan. ”Dibunyikan setahun sekali, pada waktu ramadan saja,” ujar Slamet, 66, penjaga sirine di Jalan Buya Hamka.
Di bawah menara suling tersebut, ada sebuah gardu kecil. Ukurannya sempit, hanya kurang lebih 2 x 2 meter. Di gardu tersebut, terdapat instalasi jaringan listrik sebagai sumber tenaga sirine. ”Saya hanya berjaga untuk membunyikan saja, sedangkan perawatan dan pembayaran listriknya ikut pemda,” beber dia.
Bentuk sama juga terlihat di sirine Alun-Alun, posisinya berada di atas atap sebuah gardu. Pada zamannya gardu ini menjadi tempat penyimpanan trafo listrik, juga sebagai tempat menyimpan mesin sirine. Meski besi menara sudah terlihat tua dan berkarat, namun konstruksinya masih sangat kokoh.
Namun bangunan bangunan peninggalan belanda yang mirip gardu listrik tak hanya ada di Alun-Alun dan Jalan Buya Hamka. Di perempatan Kebon Rojo dan samping kelenteng Hok Liong Kiong, juga ada gardu listrik. Bedanya, gardu listrik di dua lokasi ini tak memiliki sirine. Kondisi bangunan juga masih kokoh.
Sayangnya, minimnya pengawasan membuat bangunan tua ini kerap menjadi korban tangan-tangan jahil. Beberapa tembok gardu listrik terlihat penuh dengan coretan. (*)
Editor : Binti Rohmatin