JOMBANG – Setelah hampir lima tahun vakum, tradisi kumkum sinden di Sendang Made yang terletak di Desa Made Kecamatan Kudu kembali digelar. Ritual ini dilakukan agar para sinden memiliki suara merdu dan awet muda, ritual ini juga menjadi penanda jika sinden sudah siap terjun ke dunia sinden yang profesional.
Sebanyak sepuluh sinden pun mengikuti ritual yang kabarnya sudah ada sejak zaman Raja Airlangga ini. Alunan musik tradisional gending Jawa mengiringi langkah para sinden menuju Sendang Drajat. Lemah gemulai cucuk lampah menuntun para sinden ini menuju sendang disaksikan ratusan warga setempat.
Sesampainya di Sendang Drajat, satu persatu sinden turun mengikuti prosesi siraman. Mereka menerima siraman air dari juru kunci, mereka juga mencuci wajah mereka dengan air Sendang Drajat ini.
”Kumkum sinden ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak jaman Raja Airlangga. Perempuan yang akan menjadi sinden harus mandi di sendang ini,” ujar Supono, juru pelihara situs Sendang Made.
Diyakini suara sinden semakin merdu, mereka juga meyakini aura sinden akan semakin terpancar setelah menjalani prosesi ritual kumkum sinden ini. Ritual ini juga dipercaya dapat membuat tanggapan sinden semakin laris dan kian dikenal masyarakat.
”Saya sangat senang dan mendukung dihidupkannya kembali tradisi kumkum sinden ini. Sebab tradisi ini sudah vakum sekitar lima tahunan, padahal dulu wisuda sinden selalu digelar setiap tahun,” ungkapnya.
Meski hanya diikuti beberapa sinden dari grup ludruk Budhi Wijaya, ini sangat berarti sebagai wujud pelestarian budaya lokal khususnya di Sendang Made yang sudah dikenal sejak dulu sebagai salah satu ikon budaya Kabupaten Jombang. (*)
Editor : Binti Rohmatin