JOMBANG – Masyarakat Jombang tentu tak asing lagi dengan kerupuk satu ini. Tampil dengan ciri khas yang tak lekang dimakan zaman, kudapan yang satu ini seringkali cocok jadi teman makan atau camilan biasa. Ia adalah kerupuk ceplok, atau masyarakat akrab menyebutnya kerupuk lengket.
Warnanya bisa dibilang agak kusam, tak putih bersih, ataupun warna-warni seperti kerupuk uyel pada umumnya. Bentuknya bulat kecil dengan bentuk rongga yang hampir tertutup sempurna. Bentuknya kerupuk ini memang terkesan sangat sederhana, hampir tak ada modifikasi apa pun sejak pertama kali muncul ke pasar.
Rasanya pun cenderung sangat asin, kerupuk ini biasa jadi teman makan masyarakat Jombang pada umumnya. Bahkan kerupuk ini sudah sangat nikmat untuk disantap bersama nasi, meski tanpa lauk lainnya. Terlebih, teksturnya yang khas yakni lengket saat dikunyah di dalam mulut.
Tak ada nama pasti buat kerupuk yang satu ini. Beberapa masyaraklat menyebutnya kerupuk kelet atau kerupuk lengket. Nama ini berdasar pada tekstur kerupuk ketika dimakan. Ada pula yang menamakannya kerupuk elek atau kerupuk rusuh lantaran tampilannya yang hadir tak bersih.
Namun, bagi pembuatnya yakni Sumarsono, 60, kerupuk ini sejatinya bernama kerupuk ceplok. Hal ini menurutnya merujuk pada proses pembuatannya yang diceplok dengan tangan menggunakan besi berbentuk bulat.
“Ya memang kalau aslinya namanya ini kerupuk ceplok. Karena membuatnya memang diceplok dengan tangan itu, jadi tidak dicetak melingkar seperti pembuatan kerupuk uyel putih itu,” terangnya.
Tekstur lengket kerupuk ini, disebut Marsono memang berasal dari bahan bakunya yakni tepung tapioka. Dengan resep rahasia yang diwariskan orang tuanya, Sumarsono menyebut memang tak pernah merubah konsep kerupuknya ini sejak dulu.
Ia mengaku memang menjaga kualitas kerupuknya ini agar tetap prima seperti yang telah dirintis kedua orang tuanya. Selain juga menjaga kepuasan pelanggan kerupuknya yang memang telah berumur 67 tahun ini.
“Ya memang tidak ada pewarna dan tidak ada pengeras juga. Sejak pabrik ini berdiri tahun 1951 sama ayah saya, bentuk kerupuknya ya seperti ini, rasanya juga begitu, tidak ada perubahan,” lanjut pria 68 tahun ini.
Setiap harinya, kerupuk-kerupuk ini disebutnya telah beredar luas di hampir seluruh Jombang. Harganya pun tak mahal, cukup seribu rupiah per bungkus isi lima keping kerupuknya. ’’Kalau dari ini harganya Rp 600 satu bungkus, cuma setelah diambil loper, kemudian di warung ke pembeli ya sampai ke harga Rp 1.000 itu,” pungkasnya. (Pewarta: Achmad RW)
Editor : Binti Rohmatin