JOMBANG – Rencana Kemenag Jombang menerapkan ujian akhir madrasah berstandar daerah (UAMBD) siswa MI menggunakan handphone (HP) berbasis android menuai sorotan. Denok Wigati, salah satu psikolog di Jombang mempertanyakan terkait penerapan UAMBD siswa MI menggunakan HP.
”Ujian menggunakan HP, yang pertanyakan, pertama lembaganya sudah semua siap apa belum, apakah semua siswa dari ratusan lembaga MI di Jombang sudah siap dengan penerapan sistem itu, saya sendiri ragu, belum lagi lembaga madrasah di pinggiran dimana akses sinyal sulit,” bebernya.
Selain masalah kesiapan perangkat ujian, hal lainnya yang perlu difikirkan kaitannya tujuan UAMBD itu sendiri. ”Jadi kita kembalikan kepada tujuan evaluasi hasil belajar. Jangan-jangan justru anak-anak konsentrasinya terkuras mikir cepat punya HP baru, bisa mengoperasikan HP, tapi tidak fokus ke materi ajar,” imbuhnya.
Jangan-jangan lanjut Denok, siswa yang tidak bisa mengerjakan soal, bukan karena tidak mengusai soal, tapi karena kurang mahir mengoperasikan HP. ”Sehingga apa, tujuan evaluasinya menjadi bias. Tujuannya evaluasi hasil belajar, tapi justru yang terjadi evaluasi kemampuan siswa menggunakan HP,” bebernya.
Di luar itu, dirinya pun mempertanyakan penerapan gadget untuk ujian siswa MI di Jombang. ”Sementara kebanyakan orang tua kuwalahan membendung anak menggunakan HP, kita batasi agar jangan sampai kecanduan gadget, ini malah mengkondisikan anak agar lekat dengan gadget,” bebernya.
Bukannya tanpa alasan, meski tak menampik dampak pluss minus penggunaan gadget pada anak, namun Denok menilai dampak negatif penggunaan gadget pada anak lebih dominan, terlebih anak usia MI.
”Diakui atau tidak, dampak gadget pada anak banyak sisi negatifnya, kalau anak sudah kecanduan main gadget cenderung anti sosial, karena sudah terlalu keasyikan main gadget, belum lagi kalau tidak diawasi banyak konten-konten negatif yang bisa jadi merusak mentalitas anak, karenanya kebijakan tersebut patut dievalusi,” singkat Denok. (*)
Editor : Binti Rohmatin