Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Bahan Baku Daun Langka, Harga Tikar Pandan Melonjak

Binti Rohmatin • Rabu, 28 November 2018 | 18:27 WIB
Bahan Baku Daun Langka, Harga Tikar Pandan Melonjak
Bahan Baku Daun Langka, Harga Tikar Pandan Melonjak

JOMBANG – Minimnya stok daun pandan akhir-akhir ini membuat harga jual tikar pandan terdongkrak naik. Seperti yang terlihat di Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang kemarin (27/11). Harga jual anyaman tikar mentah naik sekira Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per lembarnya.


”Memang pandan sulit didapat karena di tegal dan hutan ikut terbakar saat musim kemarau kemarin. Jadi harganya mulai naik,” ujar Maryam, salah satu  perajin tikar pandan.


Ia menyebut, sebagian besar perajin memang mengambil pandan di tegal maupun hutan. Namun ada juga beberapa diantaranya yang menanam pandan sendiri di sekitar pekarangan rumah. Sehingga mereka tidak kesulitan memperoleh bahan baku tikar ini.


”Alhamdulillah harga jualnya naik, biasanya per lembar anyaman tikar mentah dihargai 12.000, sekarang 14.000. Tapi kalau nanti pandan tumbuh lagi dan sudah mudah diperoleh, harga tikar turun lagi,” lontarnya.


Ia menuturkan, satu lembar tikar terdiri dari dua lembar anyaman tikar mentah yang sudah kering. Keduanya ditumpuk dan dijahit sekelilingnya lalu siap digunakan. ”Kami jual anyaman tikar mentah saja, bisa lebih cepat laku,” lanjut dia.


Tikar tersebut nanti dijual ke berbagai wilayah baik di Jombang maupun luar daerah. Perajin sendiri tidak pernah memasarkan tikar karena biasanya banyak tengkulak yang datang untuk membeli anyaman maupun tikar jadi. ”Harga jual satu tikar yang sudah jadi 30 ribu ke tengkulak. Tidak tahu kalau di pasar, kami hanya buat dan jual di rumah saja,” tandas Maryam.


Menganyam tikar sendiri menjadi pengisi waktu luang beberapa perempuan di wilayah ini. Mereka menganyam setelah pekerjaan rumah tangga selesai. Dalam sehari mereka bisa menganyam satu lembar tikar, namun jika dikebut bisa selesai dua lembar. ”Saya sejak kecil sudah bisa menganyam karena bantu orang tua,” pungkasnya. (*)

Editor : Binti Rohmatin