JOMBANG - Pemkab Jombang akhirnya mengambil sikap tegas dari banyaknya temuan telur busuk progam bantuan pangan non tunai (BPNT) di sejumlah wilayah. Pemkab memutus kontrak dengan PT Pertani selaku supplier telur.
Bahkan, pemkab juga meminta agar menarik semua telur di tingkat agen baik telur yang layak atau tak layak konsumsi. Keputusan tersebut diambil pemkab sebagai bentuk kekecewaan dari banyaknya temuan mengenai kondisi telur yang rusak beberapa hari terakhir. Mulai telur pecah, busuk hingga campur belatung.
“’Menimbang laporan dan evaluasi telur memang kemarin ada beberapa titik yang rusak, dan membusuk tapi kita sudah berusaha agar telur yang rusak ini segera disingkirkan dan ditarik oleh supplier PT Pertani,” ujar Moch. Saleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jombang saat melihat penarikan telur di Desa Bongkot, Kecamatan Peterongan kemarin (26/11).
Pemkab melalui Dinsos secara resmi sudah memgeluarkan memo terkait instruksi penarikan telur di tingkat agen. Memo pertama keluar pada Sabtu (24/11) dan memo kedua dikeluarkan esok harinya, Minggu (25/11).
’’Kami dari dinas sosial selaku pelaksana program dan sekretaris tim koordinasi bansos pangan sudah menginstruksikan kepada seluruh agen yang telah mendapat telur agar ditarik dan dikembalikan kepada supplier,’’ papar dia.
Saat itu juga, kata Saleh, pihaknya sudah memutuskan hubungan kontrak dengan PT Pertani. Penyaluran telur kondisi tak layak konsumsi menurut dia adalah sebuah bentuk pelanggaran. Sehingga harus ada sikap tegas yang diambil.
“Mereka harus mempertanggungjawabkan dengan menghentikan penyaluran dan menarik telur di tingkat agen,” beber dia. Sebagai konsekuensi pemutusan kontrak itu, pemkab juga sudah mencarikan solusi untuk penyaluran telur BPNT ke depan.
Yakni memberikan kebebasan kepada setiap agen E-warung untuk berbelanja alias kulakan sendiri telur dari peternak maupun pedagang di lingkungan mereka masing masing. ’’Intinya kita berikan kebebasan, kemandirian untuk berbelanja atau kulakan telur. Selanjutnya akan mereka salurkan ke KPM (keluarga penerima manfaat),” beber dia.
Dari kejadian temuan telur busuk, pemkab juga sudah melakukan evaluasi menyeluruh. Dijelaskan, beberapa faktor yang membuat telur busuk adalah pada proses pengiriman yang dilakukan secara konvensional. Sehingga terjadi gesekan dan benturan yang membuat telur kocak.
’’Selain itu pengaruh cuaca juga sangat berpengaruh. Misalnya telur kepanasan di dalam kendaraan,” jelas dia. Disamping itu, cara PT Pertani yang langsung mengambil telur dari peternak juga dinilai mempengaruhi. Karena telur yang diambil secara langsung dari peternak belum bisa dijamin higinitasnya.
“Karena PT Pertani ini mengambil dari peternak lalu langsung disalurkan ke agen,” papar dia. Meski penyaluran telur kini sudah diberikan ke agen, pemkab bakal tetap melakukan pengawasan. Yakni mengawasi jumlah, kualitas dan jenis barang. ’’Semua akan kita awasi. Termasuk harganya,’’ pungkasnya. (*)
Editor : Binti Rohmatin