JOMBANG – Pemkab Jombang mau berbenah dengan buruknya kualitas telur program bantuan pangan non tunai (BPNT) yang dikirim pihak supplier PT Pertani. Sedikitnya ada dua zona di wilayah selatan setiap pembelian telur di agen E-warong, telur dikemas dengan plastik mika.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Jombang M. Sholeh mengungkapkan, ini dilakukan sesuai dengan evaluasi yang sudah dilakukan.
“Jadi hasil evaluasi kemarin, sudah ada banyak masukan. Karena telur itu curah pakai egg tray (tempat telur, Red) terkadang ditumpuk terus pecah. Maka kita coba untuk zona tiga dan empat wilayah selatan dibuat mika,” kata Sholeh kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Dikemas dalam plastik mika itu kata dia, diharapkan telur yang diterima masing-masing KPM (keluarga penerima manfaat) kondisinya bagus. “Artinya diperbaiki kualitas dan kemanan telur, karena sudah dikemas,” imbuh dia.
Karena sudah dikemas, otomatis harga telur itu kata dia sudah tak lagi per kilogram. Melainkan per-pack. “Memang benar hitungannya tidak lagi per kilogram. Jadi mereka dapat dua pack, satu pack isi 10 butir. Artinya mereka dapat 20 butir,” sebut Sholeh.
Ini dilakukan menurut Sholeh agar kondisi bantuan yang diterima masing-masing KPM tidak rusak. “Jadi yang terpenting itu proses dan mekanisme sesuai,” sambung Sholeh.
Diakui, seandainya telur berada di agen E-warong terlalu lama akan mempengaruhi kondisi telur. Minimal selama tiga hari telur itu akan berubah. “Lebih dari itu biasanya sudah berubah, apalagi kalau sudah seminggu tidak mesti masih bagus. Cuacanya juga sekarang kan begini (peralihan musim kemarau ke hujan),” beber dia.
Namun, fakta di lapangan, saat diantar supplier ke agen E-warung, telur sudah dalam keadaan busuk. Melihat fakta ini, Sholeh menegaskan, pihak supplier harus mensuplai telur berkualitas bagus. “Jadi kita tekankan yang terpenting itu pada proses dari supplier ke agen telur masih segar, kemudian dari agen tidak dibiarkan terlalu lama dan segera disalurkan ke KPM,” ungkap Sholeh.
Lagi-lagi realita di lapangan, dari dua jenis bantuan itu masih ada yang telat pengiriman ke agen E-warung. Sehingga, penyaluran ke KPM belum bisa dilakukan.
Kondisi itu bertambah dengan buruknya kualitas telur. “Jadi andaikata beras berkutu atau telur rusak dan sebagainya, bisa dikembalikan. Semisal berasnya rusak dan berkutu maka KTNA (kontak tani nelayan andalan) sebagai supplier beras melalui gapoktan siap mengganti,” tutur Sholeh.
Begitupula dengan kondisi telur. “Semisal busuk juga sama. bisa dikembalikan. Jangan sampai di tangan KPM itu barangnya rusak. Artinya jangan sampai KPM di Jombang itu dikecewakan karena barangnya tidak bagus,” pungkas Sholeh. (*)
Editor : Binti Rohmatin