Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Stigma Negatif Hambat Penanganan HIV/AIDS di Jombang

Binti Rohmatin • Kamis, 22 November 2018 | 00:25 WIB
Stigma Negatif Hambat Penanganan HIV/AIDS di Jombang
Stigma Negatif Hambat Penanganan HIV/AIDS di Jombang

JOMBANG – Meski pencegahan HIV/AIDS di Jombang sudah dilakukan sejak lama, namun kendala utama yang dihadapi sejak dulu hingga sekarang adalah stigma negatif.


"Pandangan negatif masyarakat kepada ODHA itu menghambat penanganan HIV/AIDS. Risiko diskriminasi yang akan mereka terima membuat mereka enggan terbuka," ujar Haryo Purwono, Kasi P2P Dinkes Jombang kemarin.


Sehingga deteksi dini maupun penanganan HIV/AIDS tidak bisa maksimal. "Kami berkoordinasi dengan berbagai pihak, khususnya KPA Jombang," ungkapnya. Ia menuturkan justru stigma negatif banyak datang dari keluarga ODHA (orang dengan HIV/AIDS) sendiri.


Berbagai tindakan atau perlakuan terhadap ODHA membuat mereka tidak percaya diri. Padahal penularan HIV itu tidak sesederhana yang dikira. "Penularan HIV itu melalui empailt cairan yaitu darah, cairan vagina, sperma dan ASI. Kalau sekedar bersalaman tidak akan tertular," ungkapnya.


Ia pun prihatin dengan stigma yang tumbuh di masyarakat. Selama masyarakat tidak melakukan prilaku yang berisiko, tegas Haryo, seperti hubungan seksual sembarangan, memakai jarum suntik bergantian dan sebagainya, mereka tidak perlu khawatir tertular HIV/AIDS.


"Jauhi penyakitnya dan prilaku berisiko lain, bukan orang atau penderitanya. Stigma ini masih tinggi, bahkan petugas kesehatan pun juga banyak stigma pada ODHA," tandasnya. Diakuinya, menghapus stigma negatif tidak mudah, dan hal itu bisa dimulai dari diri sendiri.


Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengedukasi masyarakat tentang tata cara penularan HIV, termasuk melalui media dan sosialisasi langsung. “Berharap stigma ini tidak berlanjut, sehingga penanganan HIV/AIDS bisa maksimal,” pungkas Haryo. (*)

Editor : Binti Rohmatin