JOMBANG - Suasana pabrik kerupuk ceplok milik Sumarsono di Kaliwungu Jombang terlihat biasa-biasa saja. Puluhan karyawan masih terlihat sibuk bekerja.
Mulai menguleni adonan kerupuk, menggoling hingga mencetak adonan menjadi bulatan-bulatan kerupuk. Di luar ruangan, dua orang lainnya juga terlihat masih sibuk menjemur dan menata kerupuk yang sudah kering.
Namun, pemandangan ini ternyata tak bisa terjadi setiap hari, menurut Sumarsono, pabriknya in selama enam bulan terahir memang tak selalu bisa rutin memproduksi kerupuk setiap hari. Alasannya, tentu saja karena harga bahan produksi yang semakin tinggi.
Ya, bahan baku utama kerupuknya yakni tepung tapioka, beberapa bulan terakhir ini sedang dalam kondisi menggila. Harganya naik tajam, dan berlangsung konsisten setiap harinya.
’’Sangat mahal sekarang, harganya sudah mencapai Rp 925 ribu per kuintalnya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Padahal, enam bulan sebelumnya, harga tepung ini di pasaran hanya berkisar di angka Rp 380 ribu hingga Rp 390 ribu per kuintal. Ia pun mengaku tak tahu apa yang menyebabkan kenaikan harga yang sangat drastis ini.
’’Sebelum lebaran itu paling mahal Rp 400 ribu, sekarang naiknya saja sudah dua kali lipat lebih. Nggak tahu juga ini ada apa,” lanjutnya.
Untuk menyiasatinya, pria 60 tahun inipun akhirnya mau tak mau harus menaikkan harga kerupuknya. Jika dulunya per keping kerupuk ceplok buatannya dijual dengan harga Rp 100, kini ia terpaksa menaikan menjadi Rp 200.
’’Ya sekarang satu plastiknya jadi isi lima, padahal dulu bisa isi 10, tapi kita juga harus menambah besarnya kerupuk memang,” rincinya.
Tak saja masalah bahan baku, kondisi pasar yang disebutnya juga sedang lesu memperparah kondisi berat yang harus dihadapi usahanya ini. Bahkan, di waktu tertentu, pabriknya ini harus sepi lantaran produksi disebutnya tak bisa berjalan.
’’Ya kalau produksi sekarang tidak habis, dan kreceknya masih cukup buat besok ya terpaksa libur, kita tidak berani membeli tepung banyak-banyak soalnya, uangnya tidak cukup,” sambungnya.
Kendati diliburkan, bukan berarti seluruh pekerja libur. Biasanya pekerja ini akan dialihkan Sumarsono untuk bekerja sebagai pembungkus kerupuk matang.
Karenanya, pria yang mulai menggantikan ayahnya dalam bisnis kerupuk sejak tahun 1981 ini sangat berharap harga tepung tapioka bisa kembali normal. ’’Ya biasanya cuma berharap jadi murah lagi, biar yang produksi begini juga tenang,” pungkasnya. (*)
Editor : M Nasikhuddin