RadarJombang.id - Gunung Pegat merupakan nama yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Lamongan.
Legenda yang mengelilingi Gunung Pegat Lamongan telah populer sejak masa kolonial Belanda hingga saat ini, dan dipercaya secara turun-temurun oleh generasi sebelumnya.
Gunung Pegat berada di Desa Karang Kembang, yang termasuk dalam Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan.
Jika Anda melakukan perjalanan dari Babat menuju Jombang, atau sebaliknya, Anda akan melewati gunung ini di sepanjang jalan raya Babat-Jombang dari timur ke barat.
Gunung Pegat merupakan bagian dari kawasan pegunungan kapur yang membentang dari Bojonegoro hingga Babat Lamongan, dan sudah ada jauh sebelum masa penjajahan Belanda.
Sejarah Gunung Pegat, mirip dengan banyak kisah mistis lainnya, memiliki cerita asal-usul yang menarik.
Penemuan jejak kuno di sekitar Gunung Pegat, seperti prasasti yang ditemukan di Desa Puncakwangi, menunjukkan bahwa area ini sudah dikenal sejak akhir era Airlangga dan mungkin berlanjut hingga masa anaknya.
Selain itu, pecahan keramik dari sekitar Puncakwangi juga menunjukkan periode yang sama.
Ada juga yang mengatakan bahwa sejarah Gunung Pegat terkait dengan masa penjajahan kolonial Belanda.
Untuk mendukung arus ekonomi pemerintahan kolonial, Belanda membangun jalan perdagangan yang menghubungkan Babat dan Jombang serta lintasan kereta api di daerah tersebut.
Salah satu tindakan kejam kolonial yang sering diceritakan adalah penerapan kerja paksa, atau kerja rodi.
Mitos mengenai melepaskan ayam di Gunung Pegat mungkin terkait dengan keyakinan bahwa gunung ini merupakan batas wilayah, yang mendorong munculnya praktik adat semacam ini.
Tradisi ini sering kali diterapkan saat seseorang memasuki wilayah baru.
Biasanya, pasangan kekasih yang hendak menikah akan melempar ayam hidup saat melewati jalan yang membelah Gunung Pegat.
Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menghindari mitos bahwa mereka akan mengalami perpisahan setelah menikah jika tidak melakukannya.
Sebagai masyarakat, kita seharusnya memahami dan menghormati adat yang ada.
Adat dan tradisi sering kali merupakan hasil kebijaksanaan dan pengalaman dari nenek moyang kita, dan mengikuti adat membantu dalam pelestarian budaya serta menjaga keharmonisan sosial.
Dengan demikian, kita berkontribusi pada pemeliharaan nilai-nilai yang penting bagi kehidupan bersama. (mg11/riz)
Editor : Achmad RW