Ada tiga makam kuno yang terletak di petilasan ini. Ukurannya lebih besar dan panjang dibanding makam biasa. Dari tiga makam itu, tertera nama Mbah To Wiryo, Mbah To Guno dan Mbah To Phati. Dari cerita yang beradar sejak turun temurun, tiga sosok ini resi kerajaan Majapahit yang bertugas sebagai penasehat kerajaan. ’’Cerita mbah saya, makam ini memiliki hubungan dengan kerajaan Mapahit,’’ ujar Kades Miagan, Antok Budi Subagyo, kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Dulunya, area tersebut dijadikan tempat pengobatan pasukan kerajaan Majapahit setelah perang. ’’Disini dulu tempat berkumpulnya para tabib yang mengobati pasukan karena terluka,’’ tambahnya.
Beberapa peziarah yang datang menceritakan hal sama. Daerah itu dulunya tempat pengobatan para tabib. ’’Ini juga diperkuat dengan temuan benda-benda kuno di wilayah makam. Seperti pecahan guci, kendi dan barang-barang lainnya,’’ jelasnya.
Makam kuno tersebut, sudah ada sejak empat generasi. Awalnya, tiga makam dengan ukuran yang tak wajar kurang terawat. Kemudian, tahun 2019 dilakukan pemugaran agar petilasan nampak bagus dan lebih terawat. ’’Karena setiap Jumat pahing rutin dilakukan tahlil dan istighotsah bersama. Setidaknya, yang berkunjung kesini nyaman,’’ paparnya.
Mitos yang beredar, peziarah dari luar kota seperti Gresik, Surabaya dan Pasuruan sering diperlihatkan sosok deretan pasukan berkuda. Pasukan berkuda itu diyakini sebagai pasukan kerajaan Majapahit yang gugur setelah mengikuti perang. ’’Cerita mistisnya banyak. Misalnya ada orang yang berkunjung kesini seakan ada penyambutan pasukan berkuda,’’ bebernya. (ang/jif/riz)
Editor : Achmad RW