Memang saat memasuki makam kesan mistis sangat terasa. Enam bangunan makam tersebut di dalam pagar yang tingginya kurang lebih setengah meter. Di pintu masuk terdapat patung burung elang berwarna keemasan. Di atas makam juga terdapat payung berwarna biru dan kuning. Di lokasi makam juga terdapat musala. Meski terdapat sosok jin pengganggu tak jarang warga yang datang untuk berziarah.
Sumiatun juru kunci makam Sentono menceritakan, makam ini merupakan makam tertua di Desa Keras. Makam ini merupakan makam dari pembabat desa yang bernama mbah Soni. ”Mbah Soni ini asalnya dari Blitar. Tidak tahu alasannya kenapa akhirnya ke Keras dan menjadi pembabat alas di Keras,” bebernya.
Dikatakan, tempat ini benar-benar sangat mistis. Karena penunggu di sini sangat suka mengganggu warga. Terlebih lagi, orang yang mempunyai niatan tidak baik. ”Banyak yang dijumpai sosok orang bertubuh besar seperti jin. Banyak juga warga yang kerasukan,” katanya.
Meski begitu, makam Sentono ini tetap dikunjungi banyak masyarakat terutama pada malam Jumat Legi untuk mencari keberkahan. Ada yang memasang dupa dan lain sebagainya. ”Biasanya kalau ramai itu malam Jumat. Banyak peziarah dari luar kota juga yang datang,” tegasnya.
Bangunan Makam Tak Membujur Laiknya Makam Umum
SEMENTARA itu, arah makam yang membujur timur ke barat itu merupakan permintaan Mbah Soni sendiri. Sehingga masyarakat dulu menuruti permintaan dari Mbah Soni.
”Kata Mbah Soni sendiri itu kenapa kok mujur begitu, ya karena kita menghadap Tuhan itu tidak harus menghadap seperti yang diperintah,” ujar Sumiatun yang juga merupakan keluarga Mbah Soni.
Kata Sumiatun, untuk menghadap Tuhan bisa menghadap arah terbit dan tenggelamnya matahari. Sementara itu, Sumiatun juga menceritakan lima sosok makam yang disebelahnya mbah Soni.
Dari penuturan leluhur Sumiatun, makam tersebut merupakan makam pengikut mbah Soni. ”Ada salah satunya orang Cina yang dimakamkan tersebut,” bebernya.
Sangat disayangkan makam tersebut kurang terawat. Bahkan, yang merawat makam tersebut, yakni dari keluarga sendiri. ”Ya memang yang merawat dari keluarga sendiri,” pungkas Sumiatun.(yan/naz/riz) Editor : Achmad RW