Konon, Mbah Nyai Pandansari bersama dua saudaranya, yakni Mbah Sumber dan Ki Ageng Butuh, menjalani hukuman karena diusir dari Kerajaan Blambangan. Dalam perjalanannya, Mbah Nyai Pandansari mempunyai dua murid yakni Mbah Singojoyo dan Mbah Bau.
Kemudian Mbah Singojoyo yang dikisahkan sebagai pembabat alas karena dulu bertarung dengan siluman manusia berkepala kambing. Siluman ini diberi julukan Wedhus Goweng yang menjadi cikal bakal Desa Ceweng.
Tak heran, petilasan ini sejak dulu menjadi jujukan masyarakat untuk ritual sebelum tanam padi dan sesudah panen. ”Petilasan ini diyakini membawa berkah bagi petani yang memiliki lahan sawah di sekitar Desa Ceweng dan Desa Balongbesuk,” kata Nono Indryatno Kepala Dusun Ceweng.
Meski suasana petilasan tidak terlalu menyeramkan, bahkan terbilang rindang dan sejuk. Namun banyak cerita mistis yang beredar di masyarakat. Konon, beberapa orang pada hari-hari tertentu dapat melihat perwujudan dari Mbah Nyai Pandansari yang memancarkan aura kuning keemasan. Perwujudan Mbah Nyai Pandansari ini selalu berpakaian adat Jawa, membawa busur dan anak panah. "Penampakan dari Mbah Nyai Pandansari ini diyakini membawa keberkahan bagi petani yang memiliki sawah di sekitar petilasan," tambahnya.
Kini, area petilasan dibangun bangunan permanen berupa tembok penahan tanah serta gazebo di area tumpukan batu, dengan satu batu cekung berukuran besar yang diyakini sebagai tempat petilasan. ”Beberapa tahun terakhir, area petilasan setiap tahun selalu menjadi jujukan sedekah desa,” pungkas Imam Subata Kepala Desa Ceweng. (dwi/bin/riz) Editor : Achmad RW