Konon, makam-makam tersebut bukan orang sembarangan. Salah satunya, ada makam Dewi Kili Suci yang merupakan Putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kadiri. Tak heran, oleh warga sekitar, keberadaan makam-makam tersebut dikeramatkan.
"Tak sedikit orang yang berziarah secara khusus dengan maksud dan tujuan tertentu," kata Misali juru kunci. Mulai mencari keberkahan, kenaikan pangkat dan lain sebagainya. Selain melakukan ritual secara adat, di antara pengunjung yang datang itu berwasilah khusus dengan panjatan doa-doa tertentu.
Saat memasuki area Gunung Pucangan, aura mistis langsung terasa. Terdapat beberapa pohon besar di sekitar area makam. Di setiap pohon itu, diberi kain dan di bawahnya tersedia tempat untuk menyalakan dupa. Selain itu, terdapat bangunan ukuran 2 x1 meter yang di dalamnya ada tempat memasang dupa.
Ia menjelaskan, makam Dewi Kili Suci sendiri berada tepat di pintu masuk. Keberadaan makam di dalam bangunan tertutup. Sedangkan 12 makam lainnya berada terpisah. Mulai makam Eyang Sakti, Eyang Carubuh, Eyang Aguno, Eyang Sayid Sulaiman, Eyang Ambarsari, Eyang Joyo Kuoso dan Eyang Sinuwun Wali. Ada juga makam Siti Sundari dan makam Pendayangan.
Untuk menuju ke makam-makam tersebut, harus menaiki anak tangga terlebih dahulu. Menurut Misali, Gunung Pucangan merupakan tempat pelarian Dewi Kili Suci lantaran tidak mau dijadikan putri kerajaan oleh Raja Airlangga. Hingga di tengah perjalanan, Dewi Kili Suci bertemu dengan pembabat alas atau sesepuh Gunung Pucangan. Lalu Dewi beserta dayang-dayangnya bertempat tinggal di padepokan hingga akhir hayat.
Dewi menolak menjadi Ratu Kadiri, lanjutnya, karena mempunyai prinsip yang masih dipegang teguh, yaitu sang puteri mau menjadi Ratu jika rakyatnya sudah sejahtera. “Menolak menjadi Ratu, karena Dewi Kilisuci memang tidak mau kalau rakyatnya tidak sejahtera dulu,” katanya.
Ditambahkan, makam-makam yang lain itu adalah para dayang Dewi Kili Suci. Salah satu pengikutnya, yakni Eyang Sakti atau yang dikenal sebagai Maling Cluring. "Eyang Sakti itu bukan maling seperti sebutannya. Beliau orang sakti yang memang dulu suka memberi rezeki kepada orang tidak mampu. Dia maling baik hati,” tuturnya.
Dia menyebut, banyak hal mistis yang terjadi di Gunung Pucangan. Siapapun yang datang dengan niatan tidak terpuji, maka dipastikan akan terjadi sesuatu. Tak sedikit yang akhirnya kesurupan saat datang ke area makam-makam keramat tersebut. "Banyak juga yang berjumpa macan besar dan lain sebagainya. Tapi bergantung dari niat orangnya sendiri," pungkas Misali.
Tempat Pertapaan Dewi Kili Suci
SEMENTARA itu, Dian Sukarno salah satu penelusur sejarah Jombang menyampaikan, Gunung Pucangan merupakan tempat yang dipilih Dewi Kili Suci untuk bertapa. Anak pertama dari Raja Airlangga dengan Putri Galuh itu memang menolak dijadikan putri kerajaan.
"Airlangga yang baru berusia 16 tahun menikah dengan Galuh Sekar, Putri Dharmawangsa Tguh yang tak lain pamannya sendiri," katanya. Dharmawangsa Tguh merupakan penguasa Kerajaan Medang yang berpusat di Watan, yang sekarang diperkirakan menjadi wilayah Maospati Magetan.
Sedangkan Airlangga putra pasangan Raja Udayana dan Mahendradatta. Ayahnya menjadi Raja Bedahulu di Gianyar, Bali dari Wangsa Warmadewa. Ibunya putri Raja Sri Makutawangsawardhana, penguasa Kerajaan Medang periode Jatim dari Wangsa Isyana. Makutawangsawardhana merupakan cucu Mpu Sindok, raja pertama Kerajaan Medang periode Jatim yang berkuasa pada 929-947 Masehi.
"Prabu Airlangga itu memiliki tiga keturunan yang pertama Dewi Kili Suci, Lembu Amiluhur dan Lembu Amerdadu," ujarnya. Lantaran tidak mau dijadikan putri kerajaan itulah Dewi Kili Suci memilih untuk melakukan pertapaan di Gunung Pucangan.
"Karena Dewi Kili Suci ini tidak mementingkan keduniawian, jabatan sehingga memilih bertapa," katanya. Hanya saja, Dian sendiri masih belum bisa memastikan pasti apakah Gunung Pucangan merupakan tempat makam Dewi Kili Suci dan makam dari dayang-dayangnya. "Kalau saya lebih pas menyebutnya petilasan," ungkapnya.
Sebab, sampai saat ini masih belum ada artefak atau batu yang menunjukan konsep makam atau hanya petilasan. "Itu yang harus dipelajari lebih lanjut karena makam-makam itu tidak ada namanya. Kalau Hindu-Budha kan tidak ada makam," pungkas Dian. (yan/bin/riz) Editor : Achmad RW