RadarJombang.id - Jalur kereta api di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan erat kaitannya dengan masa kolonial.
Daerah Jombang sendiri pernah dilintasi lima operator atau perusahaan kereta, keempatnya milik swasta dan satu milik negara yakni Staatspoorwegen atau SS.
Perusahaan kereta milik negara itulah yang sekarang disebut PT KAI.
Pada tahun 1875, SS (Staatsspoorwegen) yang menghubungkan Bandarkedungmulyo-Curahmalang mulai beroperasi untuk pertama kali.
Namun, baru masuk ke Jombang tanggal 27 Februari 1881.
Jalur ini tidak hanya menjadi sarana transportasi penting pada masanya, tetapi juga menyimpan kisah-kisah menarik tentang perkembangan ekonomi serta peradaban di wilayah tersebut.
Terdapat beberapa halte (pemberhentian) hingga menjadi stasiun di jalur ini, yaitu Sembung, Jombang, Peterongan, Sumobito, dan Curahmalang.
Menurut peta tahun 1884 yang bersumber dari laman ubl.webattach.nl, terlihat tulisan Halte Kaliwoengoe sebelum berganti status menjadi stasiun Jombang.
Hal itu karena secara geografis, lokasi stasiun Jombang memang termasuk dalam wilayah Desa Kaliwungu.
Untuk tidak dimanfaatkan oleh Belanda yang akan melakukan Agresi Militer II, perlintasan kereta tersebut sempat dibumihanguskan pejuang pada minggu terakhir bulan Desember tahun 1948.
Kemudian, diperbaiki kembali secara total.
Setelah pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia, per 1 Januari 1950 SS/VS dan DKARI dilebur menjadi Djawatan Kereta Api (DKA).
Selanjutnya, berubah Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) tahun 1963. Pada 15 September 1971 menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).
Pada 2 Januari 1991, namanya kembali berubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), 1 Juni 1999 dari Perumka ke PT Kereta Api.
Terakhir, mulai 28 September 2011 sampai sekarang tetap PT Kereta Api Indonesia (KAI).
“Seiring dengan pergantian nama ini, logo atau lambangnya juga berbeda-beda,” terang Moch. Faisol, salah satu pengamat sejarah.
Jalur kereta api Bandarkedungmulyo-Curahmalang adalah bagian tak terpisahkan atas penelusuran sejarah di Kabupaten Jombang.
Dengan memahami sejarahnya, kita bisa menghargai jasa para pendahulu yang telah membangun infrastruktur penting tersebut.
Agar menginspirasi generasi mendatang untuk terus membangun industri perkeretaapian yang dapat bertransformasi lebih baik dari sebelumnya. (Karina Dwi Anjarsari)
Editor : Achmad RW