RadarJombang.id - Ujung timur Jombang, juga terdapat jalur kereta api kuno yang sudah ada sejak era penjajahan Belanda.
Jalur kereta api kuno di ujung timur Jombang ini, menghubungkan wilayah bagian timur dan selatan Jombang serta memiliki sejarah yang menarik.
Jalur ini dikenal sebagai Jalur Kereta Api Mojoagung–Ngoro, yang dibangun oleh perusahaan Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJSM) pada akhir abad ke-19.
Pembangunan jalur ini dimulai pada tahun 1887 dan selesai pada tahun 1890.
Segmen pertama dari Mojokerto ke Mojoagung diresmikan pada 1 Oktober 1889, sedangkan segmen Mojoagung ke Ngoro diresmikan pada 1 Januari 1890.
Jalur ini digunakan untuk menghubungkan berbagai pabrik gula di Mojokerto, seperti PG Brangkal, Sentanan Lor, Sumengko, Dinoyo, Mojoagung, dan Solorejo serta sebuah pabrik spiritus di Wates.
Jalur ini juga menghubungkan situs-situs bersejarah peninggalan Majapahit.
Dari jalur Mojoagung-Ngoro ada beberapa Halte di beberapa desa yaitu, Modjoagoeng, Rosobo, Dokoersari, Pasar Gajam, Seloredjo, Seloredjo Fabriek (Pabrik Selorejo), Modjodjedjer, Modjodjedjer (wissel), Modjowangi, Pasar Modjowarno, Kaijen, Goewo, Kertoredjo, Ngoro.
Jalur ini dinonaktifkan pada tahun 1943, karena dibongkar oleh pekerja romusa Jepang atau rusak akibat Agresi Militer I.
Selain jalur Mojoagung–Ngoro, ada juga jalur Pulorejo–Ngoro–Kandangan yang dibangun oleh Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) dan diresmikan pada 7 Desember 1898.
Jalur ini melayani perkebunan di daerah Kandangan, Kediri, dan juga dinonaktifkan pada masa pendudukan Jepang.
Setelah dinonaktifkan pada masa pendudukan Jepang, jalur kereta api Pulorejo–Ngoro–Kandangan mengalami beberapa perubahan dan perkembangan
Setelah kemerdekaan Indonesia, beberapa jalur kereta api yang dinonaktifkan oleh Jepang mulai direhabilitasi.
Namun, jalur Pulorejo–Ngoro–Kandangan tidak termasuk yang diprioritaskan untuk dibangun kembali karena perubahan kebutuhan transportasi dan ekonomi.
Penutupan jalur ini berdampak signifikan pada ekonomi lokal, terutama pada perkebunan di daerah Kandangan yang sebelumnya bergantung pada jalur kereta api untuk distribusi hasil perkebunan.
Transportasi darat lainnya mulai menggantikan peran kereta api.
Hingga saat ini, beberapa sisa-sisa infrastruktur jalur kereta api ini masih dapat ditemukan, seperti bekas rel dan stasiun yang sudah tidak terpakai.
Beberapa di antaranya menjadi situs sejarah lokal yang menarik minat para peneliti dan penggemar sejarah kereta api. (Putra Satria Nur Rahmat Pangestu)
Editor : Achmad RW