Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Desa di Jombang ini Diyakini Jadi Lokasi Sri Sultan Hamengkubuwono IX Nyantri, Rumahnya Masih Terawat

Anggi Fridianto • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 17:39 WIB

 

Rumah ini diyakini sempat jadi tempat rumah tempat Sri Sultan Hamengku Buwono IX belajar agama di Dusun Wonoayu, Desa Dukuhmojo, Mojoagung Jombang
Rumah ini diyakini sempat jadi tempat rumah tempat Sri Sultan Hamengku Buwono IX belajar agama di Dusun Wonoayu, Desa Dukuhmojo, Mojoagung Jombang

RadarJombang.id – Desa Dukuhmojo, Kecamatan Mojoagung Jombang ternyata menyimpan sejarah besar bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Raja Keraton Ngayogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memimpin 1940-1988 ini, dipercaya pernah nyantri di sebuah pondok pesantren di desa di Mojoagung, Jombang ini.

Pondok yang jadi Sri Sultan Hamengku Buwono IX atau Gusti Raden Mas Dorodjatun nyantri, adalah Pondok Pesantren Tanfidzul Quran Nur Muhammad.

Kades Dukuhmojo Nur Aini Ruba’i  mengatakan, Desa Dukuhmojo memiliki kental akan sisi historis tokoh besar.

Salah satunya, keberadaan bangunan rumah klasik yang dulunya merupakan pondok tempat Sri Sultan Hamengku Buwono IX menimba ilmu agama kepada KH Imam Achmad.

”Informasi yang diturunkan turun-temurun oleh orang tua kami bahwa di rumah ini, dulunya Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah belajar agama di sini,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Secara pasti, ia tak mengetahui tahun berapa Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pertama itu belajar di pondok.

Hanya saja, dari informasi yang tertera di bedug masjid, jika masjid didirikan sekitar tahun 1800-an.

”Saya kurang tahu pastinya karena sampai sekarang belum ada bukti otentik yang menyebut tahun berapa Sri Sultan Hamengku Buwono IX mondok,” tambahnya.

Namun demikian, pihaknya sebagai pemerintah desa terus berupaya menjaga kelestarian peninggalan bangunan bersejarah tersebut.

Salah satunya, dengan mendukung perawatan dan upaya pengenalan nilai sejarah ke masyarakat umum.

”Dulu pernah akan direnovasi, namun kami berharap agar tetap menjaga bangunan asli. Akhirnya yang direnovasi hanya lantai dasar,” papar dia.

Hingga sekarang, rumah yang mayoritas berbahan kayu tersebut tetap kokoh dan terawat.

”Sekarang tetap kokoh dan terawat,” tegasnya. (ang/naz/riz)

 

Editor : Achmad RW
#Mojoagung #Dukuhmojo #Jombang #sri sultan hamengku buwono #desa cijalingan #Nyantri