RadarJombang.id - Tepat 26 tahun lalu, di bulan Mei 1998, kota Jombang diramaikan dengan aksi unjuk rasa mahasiswa bersama rakyat yang pro reformasi.
Hampir setiap hari di bulan Mei 1998 itu, mereka berdemonstrasi di jalanan dan gedung DPRD Kabupaten Jombang.
Beberapa foto koleksi Fathor Rohman, alumni Fakultas Ilmu Sosial & Politik (Fisipol) angkatan 1991, Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang menjadi saksi bisu peristiwa yang berujung turunnya Presiden Soeharto dari kekuasaan itu.
Demonstrasi terbesar yang terakhir dilakukan para mahasiswa, terjadi pada hari Minggu, 17 Mei 1998.
”Foto-foto itu saya peroleh dari Yusuf Wibisono, alumni Undar jurusan D3 Manajemen Informatika & Komputer (Mikom) angkatan 1998,” kata Moch. Faisol, salah satu penelusur sejarah Jombang yang juga alumni Fakultas Teknik Undar angkatan 1995.
Dari 10 foto, keseluruhan menggambarkan suasana demonstrasi di Jombang yang digelar hanya empat hari menjelang turunnya Presiden Soeharto.
Mulai dari kampus Undar, sepanjang jalan sekitar Ringin Contong hingga di gedung DPRD Kabupaten Jombang.
Salah satu foto menggambarkan situasi di kampus Undar jl Merdeka (sekarang jl Gus Dur) yang dipasangi sebuah spanduk besar berwarna kuning dengan tulisan tinta hitam.
Spanduk besar dari kain berukuran sekitar 4 m x 8 m itu, bertuliskan: KAMPUS RAKYAT UNTUK REFORMASI. SUPERSEMAR (Suara Keprihatinan Serikat Mahasiswa & Rakyat).
“Seingat saya, yang menulis di spanduk itu, mahasiswa bernama Nyohan Husada alias Cacuk,” lanjutnya.
Saat itu, peserta aksi demonstrasi tidak hanya dari mahasiswa Universitas Darul Ulum saja.
Tetapi juga gabungan dengan mahasiswa Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (Ikaha) Tebuireng dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Jombang.
Mereka bergerak dari masing-masing kampus menuju gedung DPRD Kabupaten Jombang di jl KH Wahid Hasyim.
Mahasiswa Ikaha Tebuireng bergerak dari selatan kota, mahasiswa STKIP PGRI Jombang dari barat dan mahasiswa Undar dari timur.
Sebelum unjuk rasa besar-besaran pada hari Minggu, 17 Mei 1998 itu, sebenarnya mahasiswa Undar sudah melakukan aksi demonstrasi berkali-kali sejak awal bulan Mei 1998.
Namun, aksi demo hanya dilakukan di dalam area kampus atau sesekali mereka keluar kampus.
Namun, biasanya hanya melakukan aksi bakar ban di jalan raya depan pintu kampus sebelah timur.
Terkadang juga melakukan aksi ke arah timur kampus di depan pertokoan Simpang Tiga.
Tentu saja, aksi demonstrasi waktu itu dalam pengawasan ketat oleh aparat kepolisian.
Tidak mudah bagi mahasiswa untuk berdemonstrasi keluar dari pagar kampusnya.
Pada perkembangannya, di tingkat nasional terjadi peristiwa yang menggemparkan.
Pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta ditembak mati saat berunjukrasa.
Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie tewas ditembak di siang hari.
Kematian empat mahasiswa ini memicu terjadinya kerusuhan massa selama beberapa hari mulai 13 Mei hingga 15 Mei 1998.
Rentetan kejadian di Jakarta ini berimbas pada suasana memanas di seluruh Indonesia, termasuk di Jombang. Tuntutan kepada Presiden Soeharto agar segera turun semakin kencang disuarakan.
Mahasiswa di Jombang akhirnya bersepakat akan menggelar unjuk rasa gabungan pada Minggu, 17 Mei 1998.
Pagi itu, ribuan mahasiswa Undar telah berkumpul dengan memakai jaket almamater khasnya yang berwarna kuning.
Mereka berasal dari delapan fakultas yang ada di Undar.
Yaitu Fakultas Teknik (FT), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Pertanian (Faperta), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Ilmu Sosial & Politik (Fisipol), Fakultas Psikologi (FPsi), Fakultas Agama Islam (FAI) dan Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan (FKIP).
Berbagai atribut unjuk rasa sudah dipersiapkan. Misalnya bendera merah putih dan beberapa spanduk bertuliskan tuntutan para pendemo.
Ada spanduk bertuliskan: ABRI DAN MASYARAKAT. JANGAN BERTINDAK ANARKIS.
Kemudian di spanduk lain ditulis: PANGLIMA BESAR JENDERAL HM SOEHARTO MUNDUR DAN SERET KE PENGADILAN.
Tidak ketinggalan bendera palang merah dari Korps Suka Rela (KSR) dari mahasiswa yang bertugas di tim kesehatan.
Dari kampus Undar, mereka mulai longmarch bergerak ke barat menyusuri jl Merdeka menuju gedung DPRD Kabupaten Jombang untuk bergabung dengan massa lainnya.
Ratusan personel aparat dari ABRI (saat itu polisi dan TNI belum dipisah) mengawal ketat sepanjang aksi itu.
Sesampai di gedung dewan, mereka bergantian berorasi menyampaikan tuntutan.
Mulai dari pengusutan penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti sampai menuntut presiden mundur dan diadili.
Suasana aksi demonstrasi mahasiswa terbesar di Jombang era reformasi ini berakhir damai.
Setelah puas berorasi, mereka kembali ke kampus masing-masing.
Empat hari kemudian, tepatnya Kamis, 21 Mei 1998 bertepatan dengan libur nasional peringatan Kenaikan Isa Al Masih, tuntutan mundur dipenuhi oleh Presiden Soeharto.
Dia meletakkan jabatan secara sukarela dan digantikan oleh Wakil Presiden BJ Habibie. Masyarakat Jombang menyambut era baru reformasi. (ang/riz)
Editor : Achmad RW