RadarJombang.id – Fenomena bencana alam sudah akrab melanda wilayah Jombang sejak ratusan tahun lalu.
Mulai gempa, hujan badai, hingga beberapa kali banjir besar tercatat terjadi di Jombang sejak era kolonial Belanda.
Seperti yang tercatat, ada gempa bumi tahun 1836 berkekuatan magnitudo setara 2,6 Skala Richter (SR).
Kemudian gempa ringan disertai hujan angin serta badai pada Minggu, 21 Maret 1847 dan Sabtu, 3 April 1847.
Akibat dua kali bencana alam dalam seminggu itu, lebih dari seratus rumah rusak hingga beberapa pohon besar roboh tumbang.
Pendopo Kabupaten Jombang dan tanaman padi rusak, bahkan ada dua orang yang terluka karena kejatuhan batang pohon yang tumbang.
Tak lama kemudian, salah satu korban itu pun meninggal dunia karena lukanya yang parah.
“Kita bisa temui beberapa catatan tentang bencana di Jombang ini dari koran yang terbit saat itu di website delpher.nl,” kata Moch. Faisol, salah satu penelusur sejarah di Jombang.
Selain gempa dan hujan badai pada 1847 itu, ada juga banjir yang melanda Jombang di tahun 1937 dan 1940.
Hal itu, tertulis dalam surat kabar De Indische Courant:
Cuaca Buruk di Jombang. Sebabkan kerusakan material.
Pada Sabtu, 13 Februari 1937 sore hari, hujan deras dan cuaca buruk melanda Jombang sehingga menyebabkan sejumlah sungai dan anak sungai meluap hingga beberapa jembatan rusak.
Misalnya, di tengah kota, Jembatan Van Hengel dan Jembatan kereta api SS yang berdekatan rusak parah. Akibatnya, semua lalu lintas di atas jembatan tersebut harus ditutup.
Jembatan di timur pasar Peterongan melalui saluran sungai Rejoagung juga mengalami kerusakan yang cukup parah.
Sehingga seluruh lalu lintas yang datang dari Mojokerto ke arah barat, terpaksa dialihkan melalui jalur Mojoagung - Selorejo - Ceweng - Jombang.
Jaringan listrik ANIEM pun rusak, sehingga pada pukul 11 malam, kota Jombang sudah dalam keadaan kegelapan yang pekat.
Saat terjadi badai petir, seorang penduduk pribumi tertimpa pohon pinang yang tumbang hingga terjatuh di sela-sela tanaman.
Korban tidak bisa segera diketahui, karena tenggelam oleh suara badai.
Tidak ada bantuan atau uluran tangan yang bisa segera disodorkan. Jenazah pria malang itu baru bisa diambil keesokan harinya.
Faisol menjelaskan, banjir pada pertengahan Februari 1937 ini benar-benar hampir melumpuhkan Jombang.
Jalan utama tengah kota yang saat itu bernama Heerenstraat (sekarang jalan KH Wahid Hasyim) putus total tepat di bagian jembatan vanhengel (panengel).
Dari foto yang dimuat di surat kabar terbitan Senin, 1 Maret 1937 terlihat kondisi jembatan panengel dan rel kereta SS yang putus diterjang banjir.
“Kemudian ada juga berita di koran edisi Senin, 29 Januari 1940 tentang banjir besar di tengah kota,” lanjut Faisol.
Seperti yang diberitakan di koran De Indische Courant dengan judul Bandjirs in Het Djombangsche.
Di koran itu tertulis, akibat banjir tersebut seorang anak hilang atau hanyut.
Hujan yang turun terus menerus, akhirnya memicu banjir di area kampung Jombang Kulon dan Kauman Lor (sekarang masuk wilayah desa Jombang).
Air mengalir menggenangi pekarangan rumah warga hingga ada yang setinggi 1 meter.
Seorang balita berusia empat tahun hilang karena hanyut.
Di luar kota Jombang, area persawahan antara desa Sembung kecamatan Perak sampai wilayah kecamatan Bandarkedungmulyo yang berbatasan dengan Kertosono terendam seluruhnya.
Kerusakan besar melanda hektaran tanaman padi.
Setelah masa kolonial, pada masa orde lama terjadi banjir besar juga tahun 1963.
Foto-foto yang bersumber dari Kantor Djapenpro (Djawatan Penerangan Provinsi) Jawa Timur menggambarkan kondisi banjir besar saat melanda Bandarkedungmulyo.
Terdapat tiga rangkaian foto. Mulai dari warga yang mengungsi sambil menggendong anaknya, mobil jeep yang melintasi genangan banjir.
Serta jalur kereta api yang putus terdampak banjir.
Pada bulan Februari 1963, wilayah Jombang juga sempat terdampak abu letusan Gunung Agung di Bali.
Beberapa hari setelah gunung tertinggi di pulau Bali itu meletus pertama pada 18 Februari 1963, kota Jombang diselimuti kegelapan.
Dampak letusan gunung terakhir yang dirasakan di Jombang terjadi sepuluh tahun lalu.
Saat gunung Kelud di Kediri meletus pada 13 Februari 2014 malam.
Abu letusan Kelud menyiram sebagian besar wilayah Jombang. Mengubah warna hitam aspal jalan menjadi putih. (fai/ang/riz)
Editor : Achmad RW