RadarJombang.id – Sudah lazimnya di setiap kota pasti memiliki tetenger sebagai titik nol pusat kota atau ground zero, termasuk Jombang.
Namun, penentuan yang disebut titik nol itu bisa menimbulkan perbedaan penafsiran.
Antara titik nol sebagai tetenger kota yang tidak tergantung dengan perhitungan posisi metrologis.
Atau justru sebaliknya, titik nol kota berdasar kilometer atau pal mile (mil) yang dihitung oleh dinas pekerjaan umum Bina Marga dari suatu titik tertentu.
Batas wilayah dan kota-kota utama dalam Karesidenan Surabaya diatur kembali dan ditetapkan pada Staatsblad 1887 No. 172, tanggal 20 September 1887 dan disempurnakan oleh Staatsblad 1896 No. 193.
”Karena sebagai pusat kendali pemerintahan, pal 0 (nol) mil berfungsi sebagai titik awal indikator jarak dalam Afdeeling Jombang,” kata Tjahjana Indra Kusuma, penelusur sejarah dan cagar budaya.
Jarak satu pal mil sama dengan 1.507 meter atau 1,507 kilometer.
Sebagai hitungan metrologis, pal 0 Jombang terletak di jalan raya depan kantor AR Jombang yang berada satu kompleks dengan rumah AR.
Pada telaah peta 1892, tergambar jelas bahwa pal 0 ada di depan rumah AR sebelah utara Alun Alun Jombang.
Tepat di Aloon-aloonstraat, yang sekarang lahannya menjadi SMAN 1 Jombang (Jalan Bupati RAA Soeroadiningrat).
Peta 1892 tersebut diperkuat detilnya oleh peta sebelumnya pada kurun 1881-1888.
Rumah dan kantor awal AR berada di Djombangstraat (sekarang Jalan Ahmad Yani). Kawasan perekonomian dan niaga, di area pemukiman pecinan (Chinezen kamp).
“Fungsi lain pal (paal atau afstandwijzer) adalah sebagai penghitung jarak yang berhubungan dengan besar biaya ongkos perjalanan,” lanjut Indra Kusuma.
Menurutnya, daya jelajah kuda delman dan sapi penarik gerobak yang terbatas membutuhkan persiapan lokasi penggantian kuda dan delman atau lokasi istirahat untuk nyombor (beristirahat sambil memberi makan kuda atau sapi).
Dengan mempertimbangkan jarak tempuh tujuan, nyombor diperlukan bagi hewan tunggangan memulihkan tenaga.
Fungsi lainnya sebagai penanda lokasi-lokasi strategis daerah otoritas tanggung jawab seorang AR.
Misalnya lokasi pabrik gula atau SF (suiker fabriek) Tjoekir terletak di 4 pal dan SF Djombang 2 pal.
Penggunaan indikator jarak (afstandwijzer) untuk wilayah Residentie Surabaya, dimana Afdeeling Jombang termasuk didalamnya, diatur dan ditetapkan dalam Staatsblad 1880 No. 27.
Yang merupakan penyempurnaan Staatsblad 1862 No. 41 dan Staatsblad 1976 No. 52.
Pada telaah peta 1892 terdapat Pal 55 di SF Djombang dan Pal 56 di dekat Hutan Tunggorono, Denanyar.
Hal ini menunjukkan jalan tersebut termasuk jalan raya lama/kuno yang sudah diatur pal mil-nya.
Patokan angka tersebut berawal dari pusat titik awal di kantor Residen Surabaya (saat itu Pal 0 diduga masih di ujung jalan Jembatan Merah, lokasi kantor Residen Surabaya).
Pada awal 1942, terjadi perusakan tugu-tugu pal tersebut oleh pemerintah Hindia Belanda saat menjelang menyerah kalah pada pasukan pendudukan Jepang.
Tindakan tersebut dilakukan untuk mengaburkan pentingnya jarak dan pedoman arah sebuah lokasi strategis.
Setelah era kemerdekaan Indonesia, lewat Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, pal-pal ini kembali ditata dan banyak yang dikalibrasi ulang akibat pemekaran suatu wilayah dan bertambahnya jaringan jalan baru.
Sehingga tidak jarang dijumpai, pal 0 km terdapat lebih dari satu lokasi dalam satu wilayah kota.
Akibat desain dan rekayasa arus lalu lintas yang melintasi kota Jombang, dapat dijumpai pal 0 km di dua lokasi menurut jaringan jalan yang ada.
Dari arah timur ke barat (Mojoagung atau Mojokerto menuju Kertosono) yang melintasi Jalan Gatot Subroto dapat menjumpai pal 0 km di sekitaran GKJW Kaliwungu atau timur stasiun Jombang.
Sedangkan jika melewati rute lama (Djombangstraat / grotepostweg) atau Jalan Ahmad Yani, akan ditemui pal di sebelah timur Pasar Legi Jombang.
Seperti terlihat pada foto yang diambil oleh Moch. Faisol tahun 2007, kondisi pal 0 km di trotoar Jalan Ahmad Yani depan toko Moro Dadi.
Sayangnya pal 0 km kota Jombang ini tidak terawat hingga kini. Catnya jarang diperbarui, begitu juga tulisan JBG 0-nya.
Pencarian titik pal 0 km sebuah wilayah atau kota pada era kolonial dapat beracuan pada letak kantor pimpinan tertinggi wilayah yang dimaksud.
Misalkan lokasi kantor Residen ataupun kantor Asisten Residen.
Sayangnya kantor-kantor era kolonial tersebut banyak yang berubah fungsi setelah Indonesia merdeka.
Secara kesejarahan Afdeeling Jombang, titik 0 km adalah sebagai titik awal, sentral pemerintahan dan pusat kendali. Yaitu di depan kantor AR untuk wilayah Jombang. (ang/riz)
Editor : Achmad RW