RadarJombang.id - Sebagai wilayah yang berada di tengah pulau Jawa, Jombang sejak dulu jadi salah satu pusat transportasi, tak terkecuali kereta api.
Sejak jaman kolonial Belanda, sudah dibangun sejumlah jalur kereta api yang menghubungkan berbagai wilayah di Jawa dan melintasi Jombang.
Seperti pada 27 Februari 1881, jalur rel kereta api pertama di Jombang resmi dibuka.
Jalur rel KA ini, sebagai kelanjutan dari pembangunan jalur rel Mojokerto-Sembung (Perak) oleh jawatan kereta api negara.
Perusahaan SS (Staatsspoorwegen) Nederlandsch-Indie, mulai beroperasi pada 1875.
Mereka membangun beberapa jalur rel kereta api yang akhirnya melintasi wilayah Jombang pada 1880-1881.
Setelah jalur relnya sampai di daerah Sembung Perak, dibangun pula beberapa stasiun.
Berawal dengan status halte (pemberhentian) hingga menjadi stasiun.
Menurut Tjahjana Indra Kusuma, pemerhati sejarah dan cagar budaya, dibukanya jalur rel kereta api SS yang melintasi wilayah Jombang ini menjadi pemicu kemajuan ekonomi.
“Dari data yang saya kumpulkan, stasiun Jombang menjadi bagian dari trase atau jalur Mojokerto-Sembung sepanjang 32 km,” katanya.
Pada peta tahun 1884 yang bersumber dari laman ubl.webattach.nl, terlihat tulisan Halte Kaliwoengoe, yang menujukkan status stasiun Jombang sebelum menjadi stasiun besar di ibukota kabupaten.
Kebetulan secara geografis, lokasi stasiun Jombang memang masuk dalam wilayah desa Kaliwungu.
Dalam perkembangannya, diikuti pula pendirian beberapa stasiun kecil lainnya seperti Sembung, Sumobito dan Curahmalang.
Pada 1899, stasiun Surabaya kota direnovasi, atap bagian peronnya dikirim ke stasiun Tarik Sidoarjo lalu dibawa ke stasiun Jombang.
Sempat hancur akibat aksi bumihangus akhir 1948, kemudian diperbaiki lagi secara total.
Pada 1960-an, atap dari stasiun Tarik itu gantian dipakai di stasiun Jombang. Kolom besi bajanya berasal dari Enthovan tahun 1877.
Kaca-kaca yang dipasang di bagian bawah atap, berasal dari masa berikutnya. Secara fisik bangunan, konstruksi rangka baja stasiun Jombang cukup kokoh.
Setelah selesai direnovasi, bentuk stasiun Jombang ini mirip dengan stasiun Kertosono dan Sragen.
“Seperti ditunjukkan oleh foto yang dimuat di buku Spoorwegstations op Java terbitan tahun 1993 itu,” kata Moch. Faisol, salah satu penelusur sejarah Jombang.
Terlihat konstruksi baja bagian peron stasiun Jombang menaungi tiga jalur rel.
Masing-masing dua jalur di dalam peron bagian utara secara penuh dan satu jalur di sebelah selatan yang hanya terlindung sedikit oleh ujung atapnya.
Sementara di bagian tengah ada selokan sebagai pembuangan air yang memisahkan beberapa jalur rel paling selatan.
Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, para pekerja kereta api membentuk Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA).
Mereka mengambil alih pengelolaan kereta api dari penjajah Jepang. Sebulan kemudian, pada 28 September 1945, mereka menegaskan menguasai penuh operasional kereta api di Indonesia.
Selanjutnya kereta api di Indonesia dijalankan oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI).
Namun, saat revolusi kemerdekaan, Belanda yang kembali ingin menguasai Indonesia membentuk jawatan tandingan bernama Staatsspoorwegen/Verenigde Spoorwegbedjrif (SS/VS).
Jawatan SS/VS merupakan gabungan dari operator kereta api milik negara dan swasta.
”Para pejuang kita sempat membumihanguskan stasiun Jombang pada minggu terakhir bulan Desember 1948,” terang Faisol.
Tujuan penghancuran stasiun ini, lanjut dia, supaya tidak bisa dimanfaatkan lagi pasukan Belanda yang melakukan serangan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948.
Mereka akhirnya bisa menguasai kota Jombang pada 29 Desember 1948, namun hampir seluruh bagian di kompleks stasiun Jombang telah rusak parah.
Seperti terlihat pada foto udara dokumentasi MLD nomor 337/17, kondisinya benar-benar hancur.
Setelah pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia, per 1 Januari 1950 SS/VS dan DKARI dilebur menjadi Djawatan Kereta Api (DKA).
Kemudian berubah Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) tahun 1963. Lalu menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada 15 September 1971.
Berubah lagi pada 2 Januari 1991 menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka).
Pada 1 Juni 1999 dari Perumka ke PT Kereta Api. Terakhir, mulai 28 September 2011 menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI) hingga saat ini. (ang/riz)
Editor : Achmad RW