RadarJombang.id – Sebagai konsekuensi diterapkannya politik etis, pemerintah kolonial mulai mendirikan bermacam-macam sekolah bagi warga pribumi, termasuk di Jombang.
Pemerintah kolonial membagi sekolah menjadi tiga kategori. Sekolah umum meliputi ELS, MULO dan AMS.
Sekolah golongan, terdiri dari HIS, HIK, HJS, HCS dan HBS. Sekolah agama di bawah pengelolaan lembaga di pesantren atau gereja.
Di afdeeling Jombang, juga dibangun beberapa sekolah dasar sesuai pembagian golongan dan sekolah mualimin di pesantren.
Namun, karena Jombang bukan kota besar atau ibu kota karesidenan, maka yang diutamakan awal hanya setingkat pendidikan dasar.
Yaitu IS (Inlandsche School, berbahasa daerah dan Melayu sebagai pengantar), HIS (Hollandsch-Indlandsche School, berpengantar bahasa Melayu dan Belanda).
HCS (Hollandsch-Chineesche School, berpengantar bahasa Mandarin dan Belanda).
Dan ELS (Europeesche Lagere School, berpengantar bahasa Belanda) serta Normaalschool (sekolah calon guru).
Jadi tidak ada sekolah pendidikan menengah; HBS, MULO, AMS apalagi OSVIA (sekolah calon pamongpraja atau ambtenaar) di sini.
Setelah Asisten Residen (AR) Jombang dipisah dari AR Mojokerto pada awal 1881, mulailah dibangun beberapa infrastruktur.
Sekolah yang pertama kali dibangun di Jombang namanya Europeesche Lagere School (ELS) pada 1893.
Sekolah tingkat dasar ini khusus hanya bagi siswa anak orang Belanda dan Eropa.
Anak pribumi dari priyayi dan yang lolos tes penerimaan dapat bersekolah di ELS.
Karena bahasa pengantar sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Belanda.
Untuk memenuhi kebutuhan guru yang bisa mengajar di sekolah pribumi IS dan HIS, didirikan sekolah calon guru bernama Normaalschool Djombang.
Mulai dibuka pada 7 Oktober 1918 yang menempati area kompleks sekolah cukup luas di wilayah Jombatan (sekarang Jalan dr. Soetomo).
Pembangunan kelas-kelas tambahan secara bertahap selama beberapa tahun.
Pada 21 Desember 1925, diberitakan di surat kabar De Indische Courant, biaya renovasi yang dihabiskan sebesar f 187.000 (gulden).
Pada perkembangan selanjutnya menjadi Sekolah Guru Bantu (SGB) dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG).
Saat ini gedung bekas Normaalschool digunakan SMAN 3 Jombang sejak 1994 yang lalu. (riz/ang/riz)
Editor : Achmad RW