JOMBANG - Saat ini di dalam kota Jombang dan sekitarnya, terdapat 125 nama ruas jalan. Secara total ada 500 ruas jalan dengan panjang 1.215 Km. Selain bertambah banyak, nama ruas jalan di Jombang juga mengalami beberapa perubahan nama jika dibandingkan beberapa puluh tahun sebelumnya.
Bahkan ada beberapa ruas jalan yang namanya berganti-ganti sampai empat kali. Kini, urusan ruas jalan menjadi kewenangan Dinas Perhubungan (Dishub) Jombang. Sebelumnya, sempat ditangani Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdakab Jombang.
Nah, untuk menelusuri jejak perubahan nama-nama ruas jalan di dalam kota Jombang dan sekitarnya ini bisa dimulai sejak era kolonial Belanda. Penjajah Belanda membagi kategori jalan di Indonesia menjadi empat macam.
Pertama, weg untuk kelas jalan besar dan lebar yang menghubungkan antar provinsi. Kedua, straat untuk jalan antar kota dalam provinsi yang agak lebar. Ketiga, laan untuk ruas jalan lebih kecil di dalam kota. Keempat, brandgang atau gang dipakai menamai koridor jalan kecil yang memisahkan antara bangunan satu dengan lain, guna mencegah api merambat jika terjadi kebakaran.
Ada beberapa titik yang termasuk brand gang di Jombang. Diantaranya, di Jl Buya Hamka atau yang lebih umum disebut Gang Suling. Posisinya terletak antara toko Cahaya Sport dan toko Gajah Mada houseware. Kemudian di Jl A Yani tepatnya sisi barat toko emas Kencana (Gien). Sedangkan ada juga di sisi utara jalan A Yani, tepatnya di sebelah barat toko Gajah Mada kosmetik.
Di Jombang pada era kolonial, memang tidak dilintasi jalur de grote postweg (jalan raya pos) yang dibangun era Daendels di pantai utara Jawa. Namun, wilayah Jombang dilintasi satu ruas jalan yang termasuk kelas weg yang menghubungkan Surabaya di timur dengan Solo dan Yogyakarta di barat. Meski begitu, di tengah kota yang dilintasi jalan besar antar provinsi itu dinamakan straat.
Yakni Djombang straat mulai desa Mojongapit di timur hingga desa Jombang di barat. Selain itu, jalur ke selatan mulai dari Ringin Contong sampai stasiun kereta api dinamakan Heeren straat. Sementara dari stasiun ke selatan diberi nama Parimono straat. Untuk jalan dalam kota ada Normaal laan yang dimulai dari perempatan Sengon ke timur sampai perempatan Kebonrojo.
Ketika pasukan Belanda di Jombang dikalahkan oleh Jepang pada 6 Maret 1942 silam, kebijakan baru yang diterapkan penjajah Jepang adalah mengganti semua nama apapun yang berbau Belanda.
“Memang diubahnya segala bentuk nama-nama berbau Belanda ini bukan tanpa maksud. Tetapi upaya dari penjajah Jepang dalam menarik simpati rakyat Indonesia,” ucap Moch Faisol, salah satu penelusur sejarah Jombang.
Ia lantas memberi contoh nama stasiun di Mojoagung milik jawatan kereta api OJS (Oost-Java Stoomtraam) jurusan Mojokerto-Ngoro Jombang. Stasiun yang nama asalnya Pandhuis diganti menjadi Mijagan (Desa Miyagan) dengan kode Mij.
Begitu pula nama-nama jalan di Jombang juga harus diubah dengan nama Indonesia. Termasuk status weg, straat, laan dan gang ditiadakan. Semuanya dinamakan dengan awalan penyebutan djalan. Akibatnya nama jalan Heeren straat diubah menjadi Djalan Kota, Djombang straat diubah Djalan Kediri.
Kemudian Parimono straat diganti Djalan Parimono. Normaal laan diganti Djalan Roemah Sakit (ruas barat) dan Djalan Djombatan (ruas timur). Begitu pula Pasar straat diganti Djalan Sidobajan.
Setelah Bangsa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, penamaan ruas jalan di era Jepang masih dipertahankan hingga beberapa tahun kemudian. Perubahan baru dilakukan Pemkab Jombang pasca ditetapkannya para Pahlawan Revolusi akhir 1965.
Ada lima nama Pahlawan Revolusi yang dipakai sebagai nama ruas jalan di Jombang. Yaitu Jalan Jenderal Ahmad Yani untuk menggantikan Djalan Kediri (barat Ringin Contong). Jalan Letjen S Parman untuk ruas di wilayah Wersah ke utara sampai tembus pegadaian.
Jalan Mayjen Sutoyo untuk menggantikan Djalan Kaliwoengoe yang sekarang menjadi Jalan Adityawarman. Sedangkan Jalan Kapten P Tendean untuk ruas barat pabrik gula Djombang Baru ke selatan sampai desa Jabon. Terakhir Jalan Karel Sadsuit (KS) Tubun.
Dalam upaya melacak perubahan nama jalan, dia banyak terbantu dengan kebijakan akses terbuka beberapa website dari sumber di Belanda. “Saya bersyukur, sebab dengan bisa mengakses sumber dari Belanda ini memang sangat membantu penelusuran,” katanya.
Pada 1966, pemberian nama jalan dengan nama Pahlawan Revolusi diikuti juga dengan nama Pahlawan Nasional yang lain. Maka secara resmi Djalan Kota diganti Jalan KH Wahid Hasyim. Djalan Ardjuna diganti Jalan Dr Soetomo. Djalan Kediri (sebelah utara PG Djombang Baru) menjadi Djalan PB Soedirman.
Program penggantian nama jalan kembali terjadi pasca Reformasi 1998 dan beberapa tahun belakangan. Sehingga kini bisa ditemui ada nama jalan yang berganti sampai empat kali. Misalnya Djombatan straat menjadi Djalan Roemah Sakit, lalu Djalan Ardjuna, kemudian Jalan Dr Soetomo.
Ada juga Pasar straat menjadi Djalan Sidobajan, lalu Jalan Ampera dan sekarang Jalan Seroja. Contoh lain Djalan Pandak menjadi Jalan Dr Cipto Mangunkusumo, lalu Jalan Sriwijaya yang kini diganti Jalan Cak Durasim. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW