Saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (2/10), pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz, Bayt Alquran Bahrul Ulum Tambakberas, KH Muhammad Imdad, menjelaskan pentingnya mencegah kemungkaran.
’’Allah Ta’ala berfirman: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung,’’ tuturnya mengutip QS Ali Imran 104.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.
Salah satu alasan mengapa kemungkaran harus dicegah karena anak-anak belajar dari yang mereka lihat. Anak yang setiap hari melihat orang dewasa menjaga salat, berkata jujur, menghormati orang lain, dan menjaga adab akan mendapatkan pelajaran tanpa harus selalu diberi ceramah. Sebaliknya, ketika anak berulang kali melihat perilaku buruk dilakukan secara terbuka, sesuatu yang semula dianggap salah dapat perlahan terlihat biasa.
Karena itu, rumah, sekolah, pesantren, masjid, dan lingkungan masyarakat harus menjadi tempat yang memberikan contoh kebaikan.
Rasulullah memberikan peringatan keras tentang orang yang melakukan dosa secara terang-terangan. Nabi bersabda: Setiap umatku mendapat maaf dan ampunan kecuali mujahhirun (orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa). Termasuk terang-terangan yakni melakukan dosa pada malam hari. Allah telah menutupi dosanya, tetapi ia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Malam itu Allah telah menutupi aibnya, tetapi pagi harinya ia justru membuka apa yang telah Allah tutupi.
Mujahirun yaitu orang yang menampakkan kemaksiatan dan tidak malu membuka aib yang telah Allah tutupi. Para ulama menjelaskan bahwa kemaksiatan yang diumumkan juga dapat menjadi bentuk meremehkan batas-batas Allah.
Dahulu seseorang yang melakukan maksiat masih merasa malu. Ia berusaha menyembunyikannya dan berharap Allah menutupi aibnya. Sekarang, tantangannya semakin besar: jangan sampai sesuatu yang semestinya membuat manusia malu justru dipertontonkan dan dianggap sebagai hal biasa.
Yang lebih mengkhawatirkan, ketika anak-anak melihatnya berulang kali, mereka dapat kehilangan kepekaan terhadap kemungkaran. Karena itu, orang tua jangan hanya berkata, ’’Yang penting anak saya tidak melakukan.’’ Lebih jauh dari itu, orang tua perlu menjaga lingkungan yang dilihat dan didengar anak.
Kemungkaran jangan dibiarkan menjadi kebiasaan. Ada kemungkaran yang pada awalnya membuat masyarakat merasa risih. Tetapi jika terus dibiarkan, lama-kelamaan orang terbiasa. Ketika sudah terbiasa, kemungkaran tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Di sinilah pentingnya amar makruf nahi mungkar. Namun, mencegah kemungkaran harus dilakukan dengan ilmu dan hikmah. Orang tua menasihati anak dengan kasih sayang. Guru mendidik murid dengan keteladanan. Tokoh masyarakat memberikan contoh yang baik. Orang yang memiliki kewenangan menggunakan kewenangannya secara benar. Sementara orang yang tidak mampu mengubahnya tetap mengingkari kemungkaran tersebut dalam hati.
Tugas kita bukan hanya menjaga diri agar tidak melakukan dosa. Kita juga mempunyai tanggung jawab menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat tumbuhnya kemungkaran.
(jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto