Binrohtal Polres Jombang: Jujur dan Tidak Mengkhianati Hati Nurani

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 05:45 WIB
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)

 

Saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (18/9), Imam Masjid Dr H Moeldoko Bandarkedungmulyo, KH Muhtarom Alhafiz, menjelaskan pentingnya jujur.

’’Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur,’’ tuturnya mengutip QS At-Taubah 119.

Jujur bukan hanya berkata benar ketika ada yang melihat. Jujur ialah tetap berkata benar meskipun tidak ada seorang pun yang mengetahui.

Kita mungkin bisa menyembunyikan kesalahan dari manusia. Kita bisa membuat alasan. Kita bisa menutupi kenyataan. Tetapi ada satu saksi yang sulit kita bohongi: Hati nurani kita sendiri.

Ketika tangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita, hati sebenarnya tahu. Ketika mulut mengucapkan kebohongan, hati sebenarnya tahu. Ketika kita mengkhianati amanah, hati sebenarnya tahu.

Kadang manusia berkata, ’’Tidak apa-apa, tidak ada yang tahu.’’

Namun hati kecil menjawab, ’’Allah tahu.’’

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Kebaikan ialah akhlak yang baik. Sedangkan dosa ialah sesuatu yang mengusik dalam jiwamu dan engkau tidak suka jika manusia mengetahuinya.

Kejujuran tidak hanya berkaitan dengan ucapan. Kejujuran juga menyangkut hati, sikap, pekerjaan, perdagangan, amanah, bahkan cara kita memperlakukan orang lain.

Salah satu contoh kejujuran paling agung terdapat pada diri Rasulullah. Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, beliau sudah dikenal masyarakat Makkah sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.

Ketika kaum Quraisy keras memusuhi Rasulullah, mereka masih menitipkan barang-barang berharga kepada beliau. Ini menunjukkan mereka mengenal Rasulullah sebagai orang yang dapat dipercaya, meskipun sebagian dari mereka memusuhi dakwahnya.

Ketika Rasulullah hendak hijrah ke Madinah, barang-barang titipan tidak begitu saja ditinggalkan. Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu diperintahkan untuk tinggal sementara guna mengembalikan amanah-amanah tersebut kepada pemiliknya.

Betapa indahnya akhlak Rasulullah. Orang yang memusuhinya tetap diperlakukan dengan amanah. Orang yang menyakitinya tidak dibalas dengan pengkhianatan.

Di sinilah kita belajar: Kejujuran tidak bergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Betapa sering kita menjaga nama baik di hadapan manusia, tetapi lupa menjaga hati di hadapan Allah Ta’ala.

Kita takut ketahuan manusia, tetapi terkadang tidak takut ketika melanggar aturan Allah.

Padahal kehidupan ini bukan hanya tentang bagaimana kita terlihat baik di mata manusia. Lebih dari itu, kehidupan ini tentang bagaimana kita benar-benar baik di hadapan Allah Ta’ala.

Allah berfirman: Pada hari ketika segala rahasia diuji dan ditampakkan (QS At-Tariq 9).

Apa yang tersembunyi di dalam hati manusia pada akhirnya akan diketahui oleh Allah.

Karena itu, jangan mengkhianati hati nurani hanya demi keuntungan sesaat.

Jangan menjual kejujuran demi uang. Jangan mengorbankan amanah demi jabatan.

Jangan menukar kebenaran dengan pujian. Sesuatu yang diperoleh dengan cara tidak jujur mungkin terlihat sebagai keuntungan hari ini, tetapi dapat berubah menjadi penyesalan panjang di kemudian hari.

Rasulullah bersabda: Hendaklah kalian berlaku jujur. Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga. Jauhilah kebohongan. Sesungguhnya kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka.

 (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
Jombang Kota Santri polres jombang Binrohtal