Saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (2/9),
Pengasuh PP At-Tahdzib Desa Rejoagung Kecamatan Ngoro, KH Ahmad Masruh, menjelaskan pentingnya salat khusyuk.
’’Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya,’’ tuturnya mengutip QS Al-Mu’minun 1–2.
Khusyuk mempunyai dimensi lahir dan batin. Khusyuk batin yakni hadirnya hati ketika menghadap Allah Ta’ala. ’’Khusyuk batin itu hatinya sesuai ucapannya,’’ terangnya.
Hati menyadari dirinya sedang bermunajat kepada Zat Yang Mahakuasa. Ia menghadirkan rasa takut, berharap, rendah diri, dan merasa diawasi oleh Allah Ta’ala.
Sedangkan khusyuk lahir tampak dari ketenangan anggota badan. Gerakan dilakukan dengan tenang, tidak tergesa-gesa, pandangan dijaga, dan tidak melakukan gerakan yang tidak diperlukan.
’’Khusyuk lahir itu dengan melaksanakan 17 rukunnya,’’ jelasnya. Termasuk tumakninah atau berhenti seukuran mengucap subhanallah. Yakni saat rukuk, berdiri dari rukuk, sujud dan duduk di antara dua sujud.
’’Orang yang tidak tumakninah disebut Nabi sebagai mencuri dalam salat,’’ ucapnya.
Apabila hati khusyuk, anggota badan pun akan khusyuk. Ketika hati benar-benar tunduk kepada Allah, ketundukan itu akan memengaruhi anggota badan. Jangan sampai badan berada di tempat salat, tetapi hati justru berada di mana-mana. Lisan membaca Al-Fatihah, tetapi pikiran sibuk dengan urusan dunia. Tubuh menghadap kiblat, tetapi hati tidak merasa sedang menghadap Allah Ta’ala.
Salah satu cara agar khusyuk, memahami bacaan salat. Ketika membaca alhamdulillahi rabbil alamin; Hati menyadari bahwa segala puji hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam.
Ketika membaca iyyaka na’budu wa iyyaka nastain; Hati mengikrarkan bahwa hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.
Dengan memahami apa yang dibaca, salat tidak lagi sekadar rangkaian gerakan dan bacaan. Salat menjadi komunikasi seorang hamba dengan Rabb-nya.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam mengajarkan, salat merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Nabi bersabda: Dijadikan penyejuk mataku di dalam salat.
Karena itu, bagi orang yang benar-benar mengenal Allah, salat bukan sekadar kewajiban yang ingin segera diselesaikan, tetapi kebutuhan hati yang dirindukan.
Selain memperbaiki salat, momentum bulan Maulud hendaknya menjadi kesempatan untuk semakin memperbanyak salawat kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
Salawat tanda cinta kepada Rasulullah. Juga amalan yang memiliki keutamaan besar.
Rasulullah bersabda: Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat yang paling banyak bersalawat kepadaku.
Ubay bin Ka‘ab radiyallahu anhu berkata.’’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku banyak bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang aku jadikan untuk bersalawat kepadamu?’’
Nabi menjawab: ’’Sebanyak yang kamu kehendaki.’’ Seperempat? Nabi menjawab: ’’Terserah kamu, tetapi jika kamu menambah, itu lebih baik bagimu.’’
Separuh? Nabi menjawab: ’’Terserah kamu, tetapi jika kamu menambah, itu lebih baik bagimu.’’
Sampai akhirnya Ubay berkata: Aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu.
Lalu Nabi bersabda: ’’Kalau begitu, keperluanmu akan dicukupi dan dosamu akan diampuni.’’ (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto