Binrohtal di Polres Jombang, KH Fahmi Amrullah Ungkap 7 Penyebab Hasad

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 06:39 WIB
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)

 

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (3/9), Ketua PCNU Jombang sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq, menjelaskan bahaya hasad alias iri dengki atau tidak suka orang lain mendapat nikmat.

 

’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Jauhilah hasad, karena hasad menghapus kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar,’’ tuturnya.

 

Allah Ta’ala berfirman di QS Al-Falaq 5. Dan aku berlindung dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.

 Baca Juga: Al-Fatihah (15): Jabatan Bukan Rezeki, KH Mustain Ingatkan soal Amanah

Hasad termasuk penyakit hati. ’’Ada beberapa sebab seseorang memiliki sifat hasad,’’ terangnya.

Pertama permusuhan dan kebencian. Ini merupakan akar penyebab hasad yang paling serius. Hasad yang disebabkan oleh permusuhan dan kebencian dapat menimbulkan berbagai macam cara untuk menghilangkan nikmat orang lain. Seperti berkelahi, mengadu domba bahkan membunuh.

 

Kedua rasa paling mulia. Keberatan jika orang lain melebihi dirinya. Ketika orang lain memiliki kekuasaan, pengetahuan dan harta lebih, ia khawatir orang lain akan melebihi dirinya dan tidak rela dengan ketinggian orang lain.

 

Ketiga kesombongan. Meremehkan orang lain. Jika orang yang dianggap rendah mendapatkan kebahagiaan atau kesuksesan, si sombong merasa khawatir karena mungkin orang tersebut tidak akan lagi tunduk atau patuh padanya.

 

Keempat takjub dengan kehebatan sendiri. Mereka tidak ingin ada yang melebihi kehebatan dirinya. Orang kafir menolak nabi dan rasul karena khawatir pangkatnya hilang sebab ada  orang yang mengungguli dirinya.

 

Kelima ketakutan mendapat saingan. Ini khusus bagi orang-orang yang sedang mencapai sebuah tujuan. Bisa terjadi antar sesama saudara untuk memperoleh hati orang tuanya.

 

Keenam ambisi kedudukan. Misalnya seseorang dipuja puji karena tidak ada yang menyamainya dalam hal ilmu, pangkat, materi dan lainnya. Jika ada seseorang yang menandinginya maka hal itu tidak akan membuat dia tidak senang dan menginginkan hilangnya nikmat dari orang yang menyainginya.

 

Ketujuh sikap keji dan kikir. Seseorang tidak senang melihat nikmat orang lain dan merasa bahagia melihat penderitaan orang lain.

 

’’Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari sifat hasad dan menjaga kesehatan hati serta bahagia dengan pikiran yang positif,’’ katanya.

Pertama selalu mengingat kebesaran Allah Ta’ala. Diantaranya sifat Allah yang Maha Adil. Kita harus yakin rezeki atau nikmat yang diberikan kepada setiap manusia adalah adil dan terbaik menurut Allah Ta’ala.

Kedua perbanyak bersyukur. Banyak-banyaklah mengucap syukur kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat yang diberikan kepada kita. Mulai dari nikmat yang terkecil hingga yang terbesar.

Ketiga rendah hati. Menghilangkan sifat-sifat sombong kepada siapa saja. Sangat perlu memiliki sikap rendah hati karena banyak orang yang lebih kesusahan dari pada kita. Sehingga kita akan merasa beruntung dengan jalan hidup yang sudah ditetapkan. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
iri dengki KH Fahmi Amrullah Hadziq kajian islam PCNU Jombang hasad