Maulid dan Kemerdekaan
Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (2/9), Rois Syuriyah MWCNU sekaligus Ketua MUI Kecamatan Ploso, KH Ainul Yaqin, menjelaskan pentingnya memperingati Maulid Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dan kemerdekaan Republik Indonesia.
’’Keduanya adalah peristiwa pembebasan,’’ tuturnya.
Sebelum Rasulullah lahir, dunia dicengkeram oleh perbudakan moral, kesewenang-wenangan, penindasan yang lemah oleh yang kuat, dan kegelapan jahiliyah. Lalu lahir Sang Kekasih Allah membawa cahaya kebebasan hakiki.
Allah Ta’ala berfirman: Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (QSAl-Anbiya' 107).
Hadirnya Nabi rahmat kemerdekaan jiwa. Nabi memerdekakan manusia dari perbudakan sesama makhluk menuju penghambaan murni hanya kepada Allah Ta’ala. Nabi membebaskan manusia dari rantai hawa nafsu, ketidakadilan, dan keserakahan.
Begitu pula dengan kemerdekaan Indonesia. Para pahlawan, ulama, dan santri yang berjuang menumpahkan darah di tanah air ini tidak hanya digerakkan oleh semangat nasionalisme, tetapi juga oleh spirit tauhid.
Mereka memfungsikan ajaran Rasulullah untuk membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan fisik dan kelaliman.
Mencintai bangsa, menjaga kedamaian negeri, dan memelihara kemerdekaan bukanlah hal yang terpisah dari iman. Bahkan, Rasulullah memberikan keteladanan nyata betapa cintanya beliau pada tanah airnya.
Ketika Rasulullah terpaksa hijrah meninggalkan kota kelahirannya, Makkah, beliau menatap tanah Makkah dengan mata berkaca-kaca dan bersabda: ’’Betapa indahnya engkau sebagai sebuah negeri, dan betapa dicintainya engkau olehku. Seandainya kaumku tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan tinggal di negeri selainmu.’’
Bahkan ketika beliau sudah menetap di Madinah, beliau mendoakan negerinya agar aman, sejahtera, dan dipenuhi keberkahan. Dari hadits ini para ulama menegaskan bahwa cinta tanah air adalah ekspresi dari keimanan, hubbul wathan minal iman.
Kemerdekaan negara yang kita nikmati ini adalah amanah. Dan aparat kepolisian berada di garis paling depan untuk mengawal amanah kemerdekaan tersebut.
’’Di antara cara meneladani Maulid Nabi dan mengisi kemerdekaan yakni kemerdekaan dari hambatan hawa nafsu dan kesombongan,’’ terangnya.
Merdeka sejati bukan sekadar lepas dari penjajah asing, melainkan merdekanya hati kita dari sifat ketidakjujuran, kesombongan, penyalahgunaan wewenang, dan keserakahan duniawi. Rasulullah mengingatkan:
Orang yang kuat bukanlah yang jago bergulat, melainkan orang yang mampu menguasai dirinya (hawa nafsunya) ketika marah/terpancing emosi.
’’Polisi yang merdeka adalah prajurit yang gagah bukan karena seragamnya, melainkan yang hatinya tunduk pada kebenaran dan mampu menundukkan hawa nafsunya,’’ tegasnya.
Baca Juga: Hadiri Maulid Nabi di Peterongan, Gus Sentot Tekankan Pentingnya Tanamkan Cinta Nabi Sejak Dini
Serta menjadi pelindung yang memberi rasa aman. Nabi bersabda; Seorang muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya.
’’Tugas polisi dalam menegakkan hukum, menjaga keamanan warga, serta mengayomi masyarakat merupakan bentuk nyata dari pengamalan sunah Rasulullah.
Setiap keringat yang menetes saat bertugas mengamankan jalan, mengusut kejahatan, dan memberikan rasa aman bagi warga Jombang adalah jihad fi sabilillah bila diniatkan karena Allah Ta’ala,’’ tegasnya.
Seragam dan jabatan akan dilepas, tugas kedinasan akan purna, namun catatan pengabdian yang ikhlas di hadapan Allah Ta’ala akan menjadi saksi yang menyelamatkan kita di hari kiamat. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto